Festival Wong Gunung 2019, Potret Kesulitan Air Bersih Masyarakat Pulosari

By: On: Dibaca: dibaca 3.91Rbx
Festival Wong Gunung 2019, Potret Kesulitan Air Bersih Masyarakat Pulosari

Baca Juga : Festival Cempaka Suro Bumijawa Sukses Digelar

Tahun ini, Festival Wong Gunung 2019 merupakan yang keempat kalinya sejak 2016. Dalam festival yang digelar di Lapangan Pulosari, Pemalang, Minggu (8 September 2019) itu digambarkan pengambilan air dari Gunung Slamet.

Baca Juga: Festival Barikan, Ritual Warga Desa Karangbale Brebes Minta Hujan

Prosesi ini dinamakan Ritual Agung Banyu Panguripan. Digambarkan di situ, proses pengambilan air dari lereng gunung Slamet dilakukan oleh para kesatria. Jumlahnya tujuh kesatria.Mereka mengambil air dari tujuh sumber mata air yang ada di lereng gunung itu. Setelah itu, air yang dinamakan Banyu Panguripan itu diruwat, dikirab, dan diserahkan kepada masyarakat.

Baca Juga: Festival Cempaka Suro Bumijawa Meriahkan Perayaan Tahun Baru Islam di Kabupaten Tegal

Baca Juga: Festival Kenthongan Di Purbalingga Perlu Dievaluasi

Atraksi ini sangat menarik perhatian masyarakat. Bukan hanya dari Kecamatan Pulosari tapi juga dari daerah lain. Bahkan, terlihat beberapa turis mancanegara berada di deretan tempat duduk para undangan.

Baca Juga: Festival Gunung Slamet Angkat Keunikan Lokal Kehidupan Warga Desa

Festival ini semakin meriah dengan kehadiran Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Bupati Pemalang Junaedi.

Menurut Bupati Pemalang, Junaedi, awalnya festival ini hanya merupakan kegiatan seni kecil di beberapa desa. Namun sejak empat tahun lalu, digabungkan menjadi satu sehingga kegiatannya menjadi lebih besar.

Baca Juga : Tahun Depan Purbalingga Gelar Festival Duku

Bahkan, Festival Wong Gunung ini telah menjadi agenda kegiatan kabupaten. Antusias masyarakat yang menyaksikannya pun setiap tahun terus bertambah. “Kita berharap festival ini dapat masuk dalam kalender event Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan nasional agar semakin banyak wisatawan yang datang ke Pemalang,” harap bupati.

Bupati mengakui, daerah Pulosari masih kesulitan air, apalagi bila musim kemarau. Untuk mengantisipasi, lewat program PNPM, dilakukan pengambilan air dari Gunung Slamet.

Sementara itu, Gubernur Ganjar Pranowo mengapresiasi kreativitas warga yang memunculkan Festival Wong Gunung. Dia mengakui, masyarakat Jawa Tengah adalah orang-orang kreatif yang memiliki jiwa seni tinggi.

Menurutnya, Jawa Tengah memiliki potensi budaya tradisional yang sangat berlimpah. “Bila semua ini disatukan dan dilestarikan, tentu akan menjadi kekuatan besar. Hari ini saya terkejut, kisah kesulitan air karena kemarau saja bisa jadi pertunjukan sebagus ini,” ujarnya.

Dia juga merasa bangga karena ada sebuah festival kebudayaan yang begitu menarik, digelar di daerah lereng Gunung Slamet. Ini menandakan bahwa geliat kesenian tidak hanya ada di kota-kota besar saja, namun di pelosok daerah. Ini menandakan semangat berkesenian terus tumbuh.

Menurutnya, Jawa Tengah membutuhkan banyak atraksi-atraksi kesenian semacam ini. “Selain untuk menarik wisatawan, kalau banyak pertunjukan seni, maka masyarakat akan bahagia,” tutur Ganjar.

Terkait kondisi kekurangan air bersih di Kecamatan Pulosari, Ganjar menjelaskan, bahwa saat ini program air bersih untuk Kecamatan Pulosari sudah dikerjakan oleh pemerintah pusat, dan dalam proses penyelesaian Detail Engineering Design (DED).

“Saya akan kawal sendiri program ini, agar dalam 1 hingga 2 tahun ke depan, daerah ini sudah tidak kesulitan air bersih lagi,” janji Ganjar di depan ribuan warga yang memadati lapangan.

Untuk diketahui, saat musim kemarau seperti sekarang, sejumlah wilayah di Jawa Tengah mengalami kesulitan air bersih. Tak terkecuali di Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.

 

 

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!