Festival Gunung Slamet (FGS) 2015 Resmi Ditutup

By: On: Dibaca: 144,367x
Festival Gunung Slamet (FGS) 2015 Resmi Ditutup

DSC_0229

Tepat jam 00.00, Minggu (7/6) Festival Gunung Slamet (FGS) 2015 yang digelar selama tiga hari, Kamis-Sabtu (4-6/6) di Desa Serang Kecamatan Karangreja Purbalingga resmi ditutup oleh Ketua Panitia FGS Tri Daya Kartika.

Dalam acara yang di sponsori oleh media online Lintas24.com ini dimeriahkan dengan pentas musik kontemporer band-band muda dari Kabupaten Purbalingga, Banyumas, dan Pemalang serta pertunjukan lampu laser spektakuler selama 15 menit yang mampu menembus kabut di Lembah Asri Desa Serang.

Dalam penutupan FGS Tri Daya berharap agar masyarakat Desa Serang Kutabawa dan Siwarak tetap terus menerus bersyukur atas rejeki yang diberikan dari-Nya dan melestarikan budaya tradisi yang sudah ada serta mempererat persatuan dan kesatuan.

“Ke depan, FGS ini akan menjadi daya tarik bagi wisatawan dari luar Purbalingga,” ungkap Tri Daya..

Tri Daya menambahkan, tidak hanya tiga desa di lereng Gunung Slamet yakni Serang dengan stroberi dan Tuk Sikopyah, Kutabawa dengan pendakian Gunung Slamet dan terminal agro dan Siwarak dengan Goa Lawa dan nanas sebagai destinasi wisata alam terbaru, akan tetapi desa-desa lain di Kecamatan Karangreja

“Kegiatan FGS ini akan terus berlanjut di tahun 2016 yang akan datang.Semoga dengan FGS dapat meningkatkan kecintaan kepada Tuhan yang Maha Kuasa serta dapat mempererat rasa persatuan dan kesatuan,”ungkap Tri Daya

Gunungan Hasil Bumi dan Air Suci Diserbu Warga

DSC_0286

Ribuan warga di Purbalingga dan kabupaten sekitarnya memadati Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga pada acara puncak Sabtu (6/6). Acara berlangsung meriah dengan tanpa meninggalkan kesakralannya.

Acara dimulai pukul 09.00, 320 orang warga Desa Serang, Siwarak dan Kuabawa serta Gombong, Kecamatan Belik, Pemalang memanggul 20 gunungan hasil bumi dan 20 tumpeng dari lapangan Kutabawa. Mereka dilepas oleh Kapolres AKBP Anom Setyadji. Mereka lalu berjalan kirab sekitar 2 kilometer menuju Balai Desa Serang.
DSC_0268
Di balai desa, juga digelar prosesi penyerahan air berkah dari ketua panitia Tridaya Kartika kepada Kasi Intel Kejari Purbalingga Soekesto Ariesto. Air tersebut sebelumnya diambil dari Tuk Sikopyah dua hari sebelumnya dan disemayamkan di balai desa. Bergabung dengan kirab tumpeng, rombongan pembawa air berkah lalu berjalan menuju Lembah Asri sejauh 1 kilometer.

DSC_0388 DSC_0379 DSC_0390
Di lokasi, air berkah diserahkan ke dalang Sutama kemudian diruwat dengan pentas wayang kulit dengan lakon Legenda Sikopyah. Usai diruwat, air itu diserahkan ke kades untuk dibagikan ke warga. Kemudian tumpeng didoakan dan diserahkan ke Bupati Sukento Rido Marhaendrianto. Dan yang ditunggu-tunggu, gerebek hasil bumi pun tiba, sekitar 3.500 orang berebut mengharapkan berkahnya. The-thek Satyalaras Karangreja dan barongsay Ling Ching Kuang Purwokerto menghibur mereka.

Kepala Desa Serang mengatakan, prosesi gerebek hasil bumi sebagai bentuk ucapan syukur warga atas limpahan rezeki sayuran dan hasil bumi lainnya yang diberikan tuhan melalui tanah lereng Gunung Slamet.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Dinbudparpora) Purbalingga, Subeno mengatakan prosesi kirab budaya ini dibuat semeriah mungkin tanpa harus meninggalkan nilai sakralnya. Sehingga akar budaya tidak dibuang dan tidak hanya hura-hura.

DSC_0372 DSC_0442

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!