Festival Congot 2017 Angkat Adat dan Wisata di Tapal Batas

By: On: Dibaca: dibaca 62.84Rbx
Festival Congot 2017 Angkat Adat dan Wisata di Tapal Batas

 

Setelah Festival Gunung Slamet di Desa Serang yang sukses digelar kali ketiga. Warga Purbalingga kembali menanti festival yang mengangkat adat istiadat dan wisata desa

Masih dalam Bulan Sura, Purbalingga kembali menyelenggarakan festival kebudayaan, jika sebelumnya diselenggarakan di kaki Gunung Slamet (FGS), kali ini festival diadakan di tapal batas Kabupaten Purbalingga dengan Banyumas, tepatnya di Desa Kedungbenda, Kecamatan Kemangkon. Festival ini akan berlangsung pada pada Jumat – Minggu, 13 -15 Oktober 2017 pekan ini.

Ketua penyelenggara Festival Congot 2017 Yudhia Patriana mengatakan nama “Congot” dalam festival ini merupakan sebutan lokal suatu tempat pertemuan/tempuran antara Sungai Klawing yang menghidupi warga Purbalingga dan Sungai Serayu.

“Lokasi itu juga merupakan salah satu destinasi wisata susur sungai, akan kami kemas menjadi satu dengan tradisi adat, religi, dan kuliner,” katanya saat konferensi pers dan peluncuran situs www.festivalcongot.com di Graha Adiguna komplek Pendopo Bupati Purbalingga, Selasa siang, 10 Oktober 2017.

Yudhia menambahkan seluruh kesenian tradisional yang ada di Desa Kedungbenda akan coba dipentaskan sebagai bagian dari hajat besar Festival Congot 2017. “Desa Kedungbenda itu unik, tidak hanya karena adat-istiadat yang masih hidup tapi juga seni tradisi yang masih dipertahankan keberadaannya,” tuturnya.

Festival Congot, menurutnya sebenarnya duplikasi penyelenggaraan adat dan kebiasaan warga Desa Kedungbenda yang sudah lama mempertahankan menjadi perayaan yang lebih besar dan dalam satu waktu.

Dalam rangkaian Festival Congot akan ada ruwat bumi, pentas wayang kulit, sedekah klawing dan parade perahu. Dikolaborasikan dengan kegiatan menebar benih ikan, menanam pohon, panggung pinggir kali dan pit-pitan maring Congot dengan ratusan doorprize.

“Tak ketinggalan penampilan kuliner khas sebagai pelengkap paket pariwisata seperti sarapan kupat landan dengan lauk serba ikan kali, pesta canthor, dan beragam minuman kopi yang dikemas dalam coffee adventure, serta produk kuliner lainnya,” terangnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga Heriyanto SPd MSi mengatakan, Purbalingga meniru kesuksesan Kebupaten Banyuwangi yang memiliki agenda 57 festival selama setahun. Di Purbalingga telah menggelar berbagai festival, yang pertama kali dan sebagai pembuka yakni Festival Gunung Slamet, Festival Jenderal Soedirman dan Festival Grebeg Onje. Semua lokasi berada di wilayah Utara Purbalingga.

“Kali ini kami memilih wilayah selatan yakni Kedungbenda sebagai lokasi festival. Disamping itu, Desa Kedungbenda sebagai salah satu desa adat selain Desa Onje, Kecamatan Mrebet berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 70 Tahun 2016,” terangnya.

Ia menyebut perhatian Pemkab Purbalingga khususnya dalam hal kebudayaan. Buktinya, anggaran untuk setiap kegiatan di Bidang Kebudayaan (Dindikbud) cukup besar, yakni sekitar Rp 6 miliar dalam setahun. “Hal ini cukup berbeda dengan kabupaten lain yang hanya hitungan ratusan juta,” katanya.

Sementara itu Kepala Desa Kedungbenda, Tosa menjelaskan sebelum ada festival ini pun desanya memiliki tradisi rutin tahunan yang berbeda-beda di setiap dusun. Diantaranya dusun di sekitar sungai memiliki tradisi Sedekah Sungai (Larung aneka sesaji), Ruwat Bumi, Suran di Petilasan Lingga Yoni, Suran di Panembahan Dipakusuma, Suran Paguyuban Kejawen, dan sebagainya.

“Selain tradisi adat, semenjak adanya Jembatan Linggamas. Desa kami juga semakin ramai sehingga kami ambil peluang sebagai wisata. Jembatan itu memiliki pesona tersendiri, jika pagi masyarakat bisa melihat pemandangan sunrise, saat sore juga ramai untuk menikmati sunset,” ungkapnya. (Ganda Kurniawan)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!