by

Elly Hasan Sadeli: Antara Motor Harley dan Sepatu Bally

-Opini, Update-dibaca 59.09Rb kali | Dibagikan 121 Kali

Akhir-akhir ini sangat marak pemberitaan di media massa cetak maupun elektronik terkait dengan penyelundupan motor dan sepeda yang konon harganya sangat mahal. Adapun motor dan sepeda yang diselundupkan adalah jenis Harley dan sepeda Brompton.

Beberapa sumber informasi menyebutkan bahwa yang proses penyelundupan  dilakukan lewat pesawat Airbus A330 900 NEO yang baru dipesan dari Toulouse, Prancis.. Sebelumnya, barang selundupan tersebut ditemukan di armada baru milik PT Garuda Indonesia (Persero). Surat kabar kompas (2019) memberitakan jika terungkapnya kasus tersebut berawal ketika petugas Bea dan Cukai menemukan onderdir motor Harley Davidson dan sepeda Brompton ilegal di hanggar PT Garuda Maintenance Facility.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan, total kerugian negara adalah sekitar Rp 1,5 miliar. Setelah melalui proses penelusuran asal usul kepemilikan Kedua barang mewah dan klasik tersebut ternyata ada hubungannya dengan direksi Garuda Indonesia. Benar saja beberapa direksi diberikan sanksi pemecatan oleh menteri BUMN, termasuk pencopotan direktur utama Garuda Indonesia, dan kemungkinan akan ada sanksi berikutnya.

Gambaran kejadian tersebut menunjukkan bahwa, gaya hidup yang terbilang mewah telah menjadi bagian dari hari-hari kehidupan para pejabat negeri ini. Disaat rakyat dilanda dengan ketidakberdayaan dalam mempertahankan kehidupannya serta keluar dari belenggu kemiskinan dan penderitaan, sementara para pejabat yang dipercaya dan digaji oleh rakyat justru hilang kepekaan terhadap kesusahan rakyatnya.

Kondisi ini, tentu saja membuat persepsi rakyat semakin buruk terhadap perilaku yang ditunjukkan oleh para pejabat tersebut. Hal ini akan berdampak pada terjadinya krisis keteladanan dalam kehidupan masyarakat, lebih berbahaya lagi ketika muncul standar moral baru yang menjelaskan bahwa setiap bentuk perbuatan yang kurang baik namun jika dikerjakan secara kolektif berubah seolah-olah menjadi kebaikan.

Jika menilik sejarah pada saat masa awal-awal republik ini berdiri, sebenarnya kita tidak pernah kehabisan stok sosok teladan bangsa. Karena dengan mudah kita akan menemukan keteladanan tersebut dari para pendiri bangsa, yang dengan kerelaannya mempertaruhkan harta dan nyawa dalam menperjuangkan kemerdekaan agar bangsa ini keluar dari kesengsaraan akibat penjajahan.

Salah satu sosok teladan itu adalah Proklamator Republik Indonesia yang bernama Mohammad Hatta (Bung Hatta). Orang yang sangat berwibawa, cerdas dan memiliki idealisme juga sangat dikenal dengan gaya hidupnya yang amat sederhana.

Yudi Latif (2014) dalam bukunya Mata Air Keteladanan menggambarkan bahwa pernah suatu ketika Bung Hatta mengembalikan uang pada negara yang merupakan sisa dana taktis Wakil Presiden sebesar Rp. 25.000, yang pada saat itu cukup besar. Padahal yang namanya dana taktis tidak perlu dikembalikan pada negara.

Apalagi penggunaannya pun tidak perlu dipertanggungjawabkan secara administratif. Namun bagi Hatta, penggunaan dana itu bukan hanya soal pertanggungjawabkan pada negara di dunia, melainkan juga dipertanggungjawabkan pada Tuhan di akhirat. Bung Hatta betul-betul pribadi yang memiliki prinsip bahwa takwa harus memancar dalam tindakan.

Prinsip hidupnya yang kuat itu terus bertahan. Salah satu cermin dalam mempertahankan prinsip tersebut bisa dilihat dari cerita tentang sepatu Bally. Pada tahun 1950-an, Bally sudah menjadi sebuah merek sepatu bermutu tinggi yang terkenal di Indonesia. Banyak orang yang menginginkan sepatu itu, termasuk Hatta yang begitu menyukainya. Namun harganya yang tidak murah, sehingga tidak semua orang dapat memilikinya.

Hatta yang salah satunya menginginkan sepatu Bally, kala itu belum mempunyai cukup uang. Pada saat Hatta membaca Koran, ia menemukan ada iklan sepatu Bally, lalu Hatta menggunting dan menyimpan potongan iklan tersebut. Mungkin, maksudnya agar jika suatu saat memiliki uang yang cukup untuk membelinya, maka beliau tidak perlu repot-repot lagi mencari tempat di mana sepatu itu dijual.

Sayangnya, uang tabungan Hatta tidak pernah mencukupi. Selalu saja terambil untuk keperluan rumah tangga, atau untuk membantu kerabat yang datang meminta pertolongan. Dalam buku ”Untuk Republik: Kisah-Kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa” karya Faisal Basri dan Haris Munandar (Wadrianto, 2019), salah satunya ditampilkan kisah kesederhanaan Bung Hatta.

Dalam buku itu diceritakan, bahwa hingga akhir hayatnya, Hatta tidak pernah memiliki sepatu merek Bally yang diimpikannya. Tak lama setelah wafat pada 14 Maret 1980, keluarga Bung Hatta menemukan lipatan guntingan iklan lama dalam dompetnya. Iklan itu adalah iklan sepatu merek Bally, yang dulu disimpannya. Bung Hatta memilih untuk tidak memilikinya.

Padahal, dengan jabatannya sebagai wakil presiden, apa sulitnya bagi Hatta untuk meminta dibelikan oleh para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalannya ditambah lagi Hatta juga berasal dari keluarga yang tak kekurangan, bukan perkara sulit untuk mendapatkan sepatu itu.

Namun Hatta bersikukuh memilih untuk mempertahankan prinsip hidupnya dengan tidak memanfaatkan fasilitas negara untuk keinginan pribadinya, dengan memilih untuk hidup sederhana. Selain sifat sederhana, Hatta juga dikenal sebagai tokoh yang memiliki sikap hidupnya amanah, jujur dan bersih. Mungkin saat ini cukup langka menemukan sosok teladan seperti Bung Hatta.

Apakah mungkin, disamping cuaca kemarau yang sedang melanda bumi ini, kita juga mengalami kemarau yang panjang atas tidak adanya air hujan keteladanan yang ditunjukkan para pejabat negara? Dari dua kejadian tersebut tentu saja kita dapat memetik pelajaran atau mengambil pesan moral yang sangat berharga. Ada orang yang memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi, namun juga sejarah masa lalu menunjukkan pejabat yang justru lebih mengutamakan negaranya diatas kepentingan pribadi.

Maka disinilah penting kiranya setiap orang tidak hanya memiliki kompetensi yang baik, namun juga harus memperlihatkan komitmennya dalam bekerja untuk berpegang teguh pada aturan main dan moralitas atau dinamakan dengan istilah integritas. Menurut Kleden (2004), salah satunya dalam kehidupan politik tanpa moralitas yang baik hanya akan mengantarkan seseorang atau kelompok untuk meraih kekuasaan dengan menghalalkan segala cara dan mengubah tawar menawar politik yang merupakan tukar menukar argumentasi menjadi tawar menawar dagang dengan memakai uang sebagai sarananya.

Pandangan tersebut seolah menggambarkan bahwa perilaku pejabat saat ini lebih memprioritaskan tujuannya dalam rangka pemenuhan ekonomi untuk kepentingan diri maupun kelompoknya daripada kepentingan bangsa dan negara.

Mungkin inilah yang menjadi akar permasalahan dari banyaknya kasus-kasus penyalahgunaan kekuasaan di negeri ini, perilaku para elit yang senantiasa berebut kuasa dengan dasar kekuatan finansial, sehingga pada akhirnya memunculkan praktek pelanggaran hukum (korupsi) dalam rangka mengembalikan modal pada saat transaksi politik dan untuk menambah pundi-pundi kekayaannya. Sedangkan untuk rakyat, hanya mereka sodorkan mimpi belaka.

Semestinya situasi ini dapat dijadikan pelajaran bagi seluruh pejabat maupun masyarakat biasa, agar senantiasa menegakkan prinsip yang baik serta membangun atmosfer moral yang sehat, agar bangsa ini segera sembuh dan bangkit dari penyakit miskinnya integritas yang telah menggerogoti seluruh organ kehidupan.

Maka, Buya Hamka membuat penawarnya (Buku Lembaga Budi, 2016) dalam bentuk nasihat yang sangat berharga. Tegak rumah karena sandi, Runtuh budi rumah binasa, Sendi bangsa ialah budi, Runtuh budi runtuhlah bangsa. (Elly Hasan Sadeli, Dosen PPKn Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Kandidat Doktor UNY)

 

 

 

Comment

Berita Lainnya