Eko Agus Rachman – Pemerhati Musik Tradisional – Belajar Angklung Itu Mudah

By: On: Dibaca: 177,262x
Eko Agus Rachman – Pemerhati Musik Tradisional – Belajar Angklung Itu Mudah

Alat musik tradisional, sebagai warisan kebudayaan bangsa Indonesia yang harus dilestarikan, seyogyanya harus kita perkenalkan kepada anak sejak usia dini. Ini adalah salah satu cara untuk menumbuhkan dan memupuk rasa bangga dan cinta anak pada bangsa dan tanah air.

Hal tersebut diungkapkan Eko Agus Rachman pemerhati music tradisonal yang tinggal di Purbalingga. Eko mengatakan, alat musik tradisional merupakan salah satu bentuk simbol nilai-nilai tradisi yang telah melembaga, melekat dan menjadi ciri masyarakat Indonesia yang berkarakter.

“Sebagai bagian dari budaya bangsa, yang digali dari berbagai nilai-nilai kedaerahan, tentunya perlu dibina dan diperlihara sebaik-baiknya, agar tidak tergerus oleh arus globalisasi.Salah satunya dengan memperkenalkan sejak dini alat-alat musik tradisional tersebut. Sehingga anak menyukai, mencintai dan memahami dengan penuh,”ungkap Jurnalis Senior yang juga Kepala Biro Purbalingga Harian Umum Radar Banyumas belum lama ini.

Eko menyakini, anak akan memiliki jiwa seni estetika yang bagus dari kesenian yang diajarkan, terlatih secara motorik dalam kegiatan memainkan alat musik tersebut. Misalnya, memainkan alat musik angklung sangat bisa dibilang unik tetapi juga menarik.

“Angklung yang selama ini digunakan sebagai alat musik pada dasarnya fungsinya hampir sama dengan alat-alat musik yang lain,”jelas Eko.

Kunci nada pada alat musik angklung tambah Eko, tidak ubahnya seperti alat musik piano atau organ yang selama ini kita ketahui. Angklung kunci-kunci nada yang dibuat sama persis dengan piano atau organ tersebut, hanya saja pada alat musik angklung bahan material penghasil suara terbuat dari bahan dasar bambu.

“Angklung digerakan panjang sesuai dengan nilai nada yang dimainkan, sehingga nada dimainkan secara sambung menyambung,”jelasnya.

Eko mencontohkan, posisi angklung adalah tabung yang tinggi berada di sebelah kanan pemain, dan yang kecil berada di sebelah kiri, dengan posisi lurus, tidak miring. Tangan kiri pemain memegang angklung pada bagian simpul atas angklung dan tangan kanan memegang angklung pada bagian bawah angklung. Posisi tangan kiri dapat menggenggam ke arah bawah maupun ke arah atas. Kedua tangan diharapkan dalam posisi lurus.

“Tangan yang bertugas menggetarkan angklung adalah tangan kanan, sedangkan tangan kiri hanya memegang angklung, tidak turut digerakkan. Gerakan tangan kanan adalah arah kanan ke kiri, dan gerakan dilakukan dengan cepat dari pergelangan tangan,”tutur Eko.

Ia menjelaskan, apabila pemain memegang lebih dari satu angklung, maka angklung yang berukuran lebih besar ditempatkan lebih dekat dengan tubuh. Apabila ukurannnya cukup besar, angklung dapat kita masukkan ke dalam lengan pemain. Kalau kecil, angklung tetap dipegang dengan jari, tetapi harus tetap ada jarak antar angklung sehigga tidak saling bersinggungan.

“Angklung tidak digetarkan seperti biasanya, tetapi dengan cara dicetok, sehingga menghasilkan bunyi yang pendek. Biasanya cara memegang angklung untuk menghasilkan bunyi seperti ini adalah dengan sedikit memiringkan angklung dan tabung dasar kanan angklung dipukulkna ke tangan kanan,”ungkapnya.

Eko menambahkan, untuk belajar memainkan musik angklung, pasti  terpikir membutuhkan biaya mahal. Terutama karena pengrajin alat musik tradisional yang sudah jarang dan material alat musik yang sudah sulit ditemui saat ini.

“Angklung yang terbuat dari bambu memiliki harga yang relatif murah dan masih bisa ditemukan dengan mudah. Jadi, tak perlu khawatir isi dompet terkuras,”ungkap Eko.

Eko menyakini, kalau diperhatikan bentuk angklung, ternyata menyimpan filosofi di baliknya. Angklung berbentuk dua tabung, yang satu lebih besar dari pada yang lainnya. Bentuk seperti ini merupakan simbol dari orang tua dan anak. Kemudian, dua tabung yang disatukan dalam satu bingkai ini, bermakna bahwa orangtua dan anak hidup dalam satu dunia yang sama. Perpaduan dari nada yang keluar dari kedua tabung, merupakan simbol gotong royong demi hidup yang harmonis.

“Penasaran untuk bisa memainkan angklung, saya bersedia berbagi ilmu bermain angklung. Kapanpun dan dimanapun saya bersedia,”ungkap Eko. (mahendra yudhi krisnha)

 

 

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!