Dwiyani Sukmajati Pelajar kelas 11 SMA Negeri 1 Karangreja – Memotret Itu Harus Berani dan Jangan Malu

By: On: Dibaca: dibaca 39.12Rbx
Dwiyani Sukmajati  Pelajar kelas 11 SMA Negeri 1 Karangreja –  Memotret Itu Harus Berani dan Jangan Malu

 

Berawal dari permintaan teman orang tuanya untuk memotret momen akad nikah membuat Dwiyani Sukmajati  Pelajar kelas 11 SMA Negeri 1 Karangreja “jatuh cinta” pada dunia fotografi.

“Bangga deh, saya dipercaya memegang kamera DSLR dan harus bisa membidik acara sakral akad nikah itu. Bagi saya, foto yang saya abadikan dengan kamera harus bisa menceritakan apa yang sedang terjadi. Dengan kata lain, memiliki rangkaian cerita,” kata gadis berparas manis ini

Sukma mengatakan, ternyata dunia fotografi tak sesederhana yang banyak orang awam perkirakan.Bukan sekedar asal menjepret gambar, tetapi banyak makna dan tujuan yang harus didapat dari setiap gambar yang diabadikan.

Gadis kelahiran 10 Maret 2000 menuturkan, dirinya mulai menyukai fotografi sejak duduk di bangku SMP Negeri 1 Mrebet. Sebuah momen mustahil dibuat lagi, kapanpun hal itu terjadi, di mana pun itu terjadi. Dan kamera mempunyai kekuatan untuk merekam momen itu. Bukan hanya dalam dunia jurnalistik saja momen itu punya nilai berita. Tapi juga merekam momen dengan sahabat dan keluarga atau mungkin sebuah perjalanan dan petualangan.

“Hargai dan rekam momenmu sendiri. Karena pada waktunya nanti kenangan yang lebih mengena di hati adalah yang bisa dipandang,”ungkap anak kedua pasangan. Muhamad Yasin dan Supriyati warga Desa Tangkisan RT 01 RW 01, Kecamatan Mrebet.

Sukma menyakini, memotret itu harus berani dan jangan malu-malu siapapun bisa dapat fotografer hebat selama mereka dapat mencintai dan ingin mengembangkan dunia fotografi serta selalu mengabadikan tiap momen berharga untuk jangan dilewatkan begitu saja.

Pasalnya, foto sebagai karya fotografi punya kekuatan lebih dibandingkan lukisan. Foto memiliki nilai realita yang lebih kuat dibandingkan lukisan. Karena itulah foto juga bisa menjadi sebuah bukti tentang terjadinya sesuatu. Dulu banyak kejadian dunia yang diabadikan dalam sebuah negatif film atau sekarang dalam file gambar digital.

”Semuanya itu didokumentasikan oleh para pewarta foto dunia. Kita tahu dan menyadari adanya kejadian besar yang  telah berlangsung karena ada bukti berupa foto yang dimuat di koran dan majalah,”ungkap Sukma. (mahendra yudhi krisnha)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!