Dwi Lustiati,S.Pd Guru SD Negeri 2 Serayularangan Mrebet – Butuh Kesabaran Tingkat Tinggi

By: On: Dibaca: dibaca 35.55Rbx
Dwi Lustiati,S.Pd Guru SD Negeri 2 Serayularangan Mrebet – Butuh Kesabaran Tingkat Tinggi

 

Bagi sebagian besar guru SD, mengajar kelas I merupakan tugas yang amat berat. Pasalnya, tugas ini membutuhkan kesabaran tingkat tinggi dalam pelaksanannya agar berhasil.

Seperti diungkapkan Dwi Lustiati,S.Pd Guru SD Negeri 2 Serayularangan Mrebet. Jika mengajar di kelas tinggi guru dapat berkonsentrasi ke arah pencapaian tujuan pembelajaran secara cepat, di kelas I para guru harus lebih bersabar. Pembelajaran yang berkualitas penting, namun pendidikan bagi siswa kelas I SD jauh lebih penting.

“Ya, siswa kelas I SD memang masih sangat terpengaruh dengan situasi rumah, dengan penuh kemanjaan, dan sangat riskan apabila guru melakukan kesalahan (baik ucapan maupun tindakan). Bukan karena kesalahan guru akan mendapatkan protes dari siswa melainkan kesalahan ini akan dibawa dan berpengaruh pada kehidupan siswa hingga dewasa,”ungkap Lusi panggilan akrabnya kepada Tabloid Elemen usai mengajar dihari pertama masuk sekolah.

Lusi sudah sepuluh tahun mengajar murid kelas 1 menuturkan, banyak pengalaman yang menarik dan sangat berkesan, tak jarang ada anak yang menangis karena diganggu teman di sebelahnya. Ia akan mendekati anak yang menangis memintanya untuk diam, sekaligus mengingatkan anak yang mengganggu agar tidak mengulangi perbuatannya.

“Butuh kesabaran tingkat tinggi, Saya akan mengemas keseriusan belajar dalam permainan sehingga tidak terkesan serius oleh murid. Saya harus kreatif dalam memanipulasi kegiatan pembelajaran agar tampak oleh siswa sebagai sebuah “permainan besar” yang menarik untuk diikuti,”ungkap Istri Bangun Widodo PNS di Dinpermasdes Purbalingga.

Perempuan kelahiran 29 Juli 1972 menegaskan, ini bukan persoalan mudah. Semua Guru perlu banyak belajar dari siswa. Apa yang membuat siswa gembira, bagaimana dominasi indera belajar mereka, tema apa yang cocok untuk menyajikan materi pelajaran tertentu, siapa yang bisa menjadi pemimpin kelompok, siapa yang sudah berani mengekspresikan diri dan siapa pula yang masih takut-takut?

“Kaitannya dengan penanaman disiplin, guru harus pula memastikan bahwa disiplin itu bukan sesuatu yang membosankan atau menakutkan. Disiplin adalah kebutuhan. Sebab itu penanamannya harus benar-benar sesuai dengan dunia anak,”ungkap Lusi.

Lulusan SMP Negeri 1 Mrebet tahun 1988 ini menyakini, bahwa dalam pembelajaran membaca harus mendapatkan perhatian yang serius. Khususnya untuk kelas I, guru harus berhati-hati dan cermat dalam menyusun perencanaan sekaligus pelaksanaannya. Hal ini penting karena kelas I merupakan fondasi bagi kelas-kelas berikutnya. Kelas I SD merupakan pintu gerbang bagi siswa memasuki dunia pendidikan formal.

“Sekali guru salah bertindak yang berdampak pada kegagalan siswa, akan sangat berpengaruh bagi kemajuan siswa selanjutnya. Itu sebabnya guru harus benar-benar berhati-hati,”ungkap Lusi.

Lusi menuturkan, sda banyak metode yang dapat digunakan guru untuk mengajar membaca di kelas I SD. Beberapa metode pembelajaran membaca metode mengenalkan kalimat utuh kepada siswa. Contohnya: Ani membaca buku, disertai gambar, anak membaca tulisan tersebut, baru guru menjelaskan huruf-huruf yang dirangkai membentuk suku kata, kata, dan kalimat.

“Ada pengalaman lucu, ketika saya sudah memasang gambar roda kendaraan di papan dan dibawahnya tertulis ini roda, eh anak-anak menyebutnya ban,”kenang Lusi.

Untuk mengingatkan huruf itu, Lusipun menunjukkan contoh membaca tulisan ini roda, dan siswa disuruh menirukan. Murid seluruh kelas memperhatikan tulisan ketika mengucapkan kalimat ini roda.

“Gambar roda diambil, tulisan ini roda saya tempel di papan tulis. Saya menyuruh murid membaca kembali tulisan ini roda tadi,”ungkap Lusi.(mahendra yudhi krisnha)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!