by

Drs. Kusworo – Ketua MGMP Penjasorkes SMA Kabupaten Purbalingga.

-Opini-dibaca 172.73Rb kali | Dibagikan 20 Kali

Kelas Olahraga Bukti Nyata Pembinaan Bakat Siswa.

kusworo

 

Pembinaan prestasi keolahragaan terus menerus dilakukan melalui reformasi bangunan sistem. Penekanan utama pada pergeseran paradigma pembinaan olahraga yang tidak sekadar berorientasi pada pencapaian medali.

Ketua MGMP Penjasorkes SMA Kabupaten Purbalingga, Drs. Kusworo mengungkapkan, medali harus dianggap sebagai konsekuensi logis pembinaan olahraga yang tertata dan terintegrasi dalam sistem yang mapan.

Pasalnya, dengan pendidikan jasmani dan kesehatan, siswa akan mempunyai bakat yang kemudian di salurkan menjadi prestasi dengan latihan rutin dan pembinaan dari guru.untuk mencapai jenjang prestasi tinggi diperlukan sistem pembibitan yang bagus.

“Tanpa pembibitan yang tersistem dengan baik maka tahap pencapaian prestasi tidak akan tercapai dengan baik,”ungkap guru SMA Negeri 2 Purbalingga.

Ia menjabarkan,usia pembibitan olahraga di Indonesia ditetapkan berdasarkan jenjang pendidikan yaitu pada usia Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Anak-anak berbakat seharusnya mampu memberikan prestasi yang unggul, akan tetapi belum tentu terwujud. Ada anak yang sudah dapat mewujudkan bakat mereka yang unggul, tetapi ada yang belum terwujud. Bakat memerlukan pendidikan dan latihan agar dapat tampil dalam prestasi yang unggul.

Siswa berbakat dikumpulkan

Seperti halnya di SMA Negeri 2 Purbalingga membuka kelas olahraga yang bertujuan memberikan perhatian khusus kepada siswa berbakat istimewa sejalan selaras dengan fungsi utama pendidikan.

Tujuan diselenggarakan pendidikan kelas khusus bakat olahraga diantaranya memberikan kesempatan kepada peserta didik bakat olahraga untuk mengikuti program pendidikan sesuai dengan potensi kebakatan yang dimiliki, meningkatkan efisiensi dan

efektivitas proses pembelajaran bagi peserta didik bakat olahraga

“Targetnya, membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan spiritual, emosional, sosial, dan intlektual, serta memiliki prestasi istimewa bidang olahraga,” ungkap lulusan IKIP Negri Semarang tahun 1991 kepada elemen (19/1).

Model layanan pendidikan khusus di SMA Negri 2 Purbalingga bagi peserta didik berbakat istemewa olahraga dibagi menjadi tiga kelas dengan jumlah total siswa 75 orang siswa. Para siswa ini dipilih berdasarkan kemampuan bakat olahraga yang telah terpantau sejak mereka duduk di bangku SMP melalui hasil POPDA.

“Mereka diminta mendaftar ke kelas olahraga. Ini bukti nyata kelanjutan pembinaan prestasi olahraga secara berjenjang,”ungkapnya.

Keistimewaan kelas olahraga ini lanjut Kusworo, mereka dibebaskan uang iuran wajib pendidikan selama 1 tahun, serta mendapat pembinaan olah raga prestasi dari ahlinya. Peminat kelas olahraga semakin meningkat. Seleksi pun diperketat, baik dari kemampuan akademik maupun fisik.

Kelas olahraga semakin diminati karena berbagai alasan. Selain ingin menyalurkan bakat siswa di bidang olahraga, ada juga yang menjadikan nilai ujian nasional sebagai pertimbangan. Kelas olahraga memang tidak membutuhkan nilai UN yang tinggi.

“Pembelajaran hariannya sama tapi mereka (murid kelas olahraga-red) ditugaskan untuk berlatih cabang olahraga masing-masing pada sore harinya,” tutur Kusworo.

Kusworo menyakini, meningkatnya jumlah peminat kelas olahraga secara tidak langsung akan mempengaruhi kualitas pembelajaran. Tidak hanya lincah berolahraga, para peserta didik juga diharapkan memiliki prestasi akademik yang mumpuni.

“Diharapkan kelas olahraga bisa mencetak atlet berprestasi yang membanggakan,” ujar Kusworo. (mahendra yudhi krisnha).

Comment

Berita Lainnya