by

Drs. H. Nurrachmat – Pensiunan Guru SMA Negeri 1 Pemalang

-Inspirasi-dibaca 122.04Rb kali | Dibagikan 34 Kali

 

????????????????????????????????????
????????????????????????????????????

Tak Ada Kata Cukup dan Tuntas

Ketika kita telah mampu melihat satu alasan, maka hal tersebut akan membuat kita bertahan dan begitu mencintai. Menikmati profesi serta memaknainya bukan hanya sekadar menjadi pilihan namun juga sebagai sebuah “panggilan”.

Hal ini yang menjadi alasan Nurrachmat muda, saat ia menjatuhkan pilihan menjadi seorang guru ditahun 1967. Guru muda penuh talenta ini merupakan lulusan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Semarang Lulus tahun 1969.

Yah, Drs. H. Nurrachmat lahir di Pemalang 72 tahun yang lalu, merupakan sosok seorang pensiunan guru yang keras, tegas dan disiplin namun ramah.

Ditemani minuman teh hangat dan emping mlinjo gurih, Nurrachmat mulai bercerita berbagai kenangan dan pengalaman kepada kepada Elemen dan lintas24.com di rumahnya Jalan Wora wari Nomor 164 Desa Kabunan Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang (9/11).

Nurrachmat membuka lembar kenangan dan pengalaman mulai dari pertama kali ia mengajar. Pengabdian sebagai guru ia mulai dari SMA Pemalang (sekarang SMA Negeri 1 Pemalang-red) dan mengajar mata pelajaran Kimia.Waktu itu SMA di Pemalang hanya satu, lainnya berada di Tegal.

“Guru saat itu belum banyak seperti sekarang dan tidak banyak orang yang mau jadi guru,”ungkapnya.

Guru menurut Nurrachmat merupakan profesi yang praktis untuk dilihat namun rumit dilakukan. Itulah yang membuat saya tertantang menjadi seorang guru. Profesi guru terlihat sederhana namun sebenarnya menjadi ujung tombak dalam membantu pembentukan karakter generasi penerus.

“Mendidik dan mengajar merupakan tugas utama guru dan dibutuhkan kesabaran tak terhingga. Oleh karena itu, untuk menjadi guru dibutuhkan sebuah panggilan hati dan keikhlasan,”ungkapnya.

Nurrachmat mengandalkan teori kimia dari buku-buku semasa kuliah untuk diajarkan kepada anak didiknya. Pasalnya, buku-buku pelajaran saat itu belum banyak seperti sekarang. Dengan penuh keikhlasan, Ia harus membaca dan mengalih bahasakan dari buku berbahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia.

“Setiap malam harus mengalih bahasakan dan menulis untuk diajarkan kepada para anak didiknya disekolah,”kenang Nurrachmat.

Dispilin Itu Harus

Walaupun setiap malam mengalih bahasakan dan menulis, namun Nurrachmat mengaku disiplin untuk berangkat ke sekolah. Pelajaran dimulai pada jam 06.30 wib, ia sudah siap disekolahan sebelum jam pelajaran dimulai dan itu juga yang diterapkan kepada para anak didiknya.

Disiplin tidak muncul dengan sendirinya, melainkan harus ditumbuhkembangkan dan diterapkan. Makna disiplin bagi Nurrachmat, merupakan ketaatan dalam melaksanakan serta menanamkan kewajiban yang menjadi tanggungjawabnya. Modal utama untuk sukses adalah disiplin di semua aspek. Semua orang harus punya disiplin untuk melaksanakan semua kewajibannya.

”Ini penting dan harus diingat, sikap disiplin sebagai pedoman. Maaf lho, kalau saya berkali-kali mengulang kata disiplin,” tuturnya.

Disiplin itu tepat waktu, sesuai dengan kewajibannya . Artinya, penanaman sikap disiplin itu bermanfaat baik untuk siapa saja, tak terkecuali dirinya dan anak didiknya.

Nurrachmat mengaku, saat itu ia mengajar mata pelajaran kimia enam jam dalam satu hari dan apabila dihitung dalam seminggu menjadi empat puluh dua jam.

“Luar biasa ra, guru sekarang paling separonya dalam seminggu,”ungkapnya dalam logat Pemalang sambil tersenyum.

Karena dianggap mempunyai etos kerja sangat tinggi, Nurrachmatpun dipercaya oleh Kepala Sekolah untuk membuat ruang laboratorium kimia. Saat itu perhatian sekolah untuk kemajuan anak didik sangat istimewa walaupun masih serba terbatas. Setelah berhasil membuat satu ruang laboratorium kimia, ia kembali dipercaya untuk mengembangkan menjadi enam ruang.

“Kalau tidak salah mendapat bantuan dari Depdikbud (sekarang kemendiknas-red). Mau lihat bentuknya, masih ada di SMA Negeri 1 Pemalang.Sekarang sudah semakin hebat dan komplit,”ungkapnya.

Guru yang mengalami kebijakan 15 Menteri Pendidikan mengatakan, jangan pernah membandingkan guru dulu dan sekarang. Pasalnya, beban sebagai guru sebenarnya sama, yakni mendidik serta mencerdaskan anak bangsa agar mengetahui ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam hidupnya.

Sangat banyak tantangan menjadi guru, namun secara tidak langsung tantangan itulah yang menjadi tanggung jawab dan membuatnya bertahan menjadi seorang guru. Keberhasilan seorang guru terlihat dari kemampuan merangsang anak didik untuk menerima dan mengolah informasi yang diperoleh dari gurunya. Tidak hanya dilihat dari hasil pengetahuan tetapi hasil keterampilan dan sikap.

“Dulu, saya harus mengajar dengan minimnya buku pelajaran dan harus lebih kreatif agar murid saya mengerti. Memang zamannya seperti itu ra,”ungkapnya.

Memilih Mengajar di Indonesia

Nurrachmat bercerita, kala itu ia pernah ditawari untuk mengajar di Negara Malaysia pada tahun 1970an, bersama temannya yang juga seorang guru dari Tegal. Namun, ia menolak dan temannya yang berangkat ke Malaysia.

“Saya menolak mengajar disana, buat apa mencerdaskan bangsa lain. Lebih baik mendidik dan mencerdaskan bangsa sendiri ra,”ungkap guru SMA Teladan I tingkat Kabupaten Pemalang tahun 1994.

Pasalnya, membangun dan mencerdaskan anak bangsa merupakan salah satu kewajibannya sebagai guru untuk mengisi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Menjadi guru harus mau terus belajar, tidak pernah ada kata cukup dan tuntas. Harus selalu mau menjalani pembaruan,”pesannya.

Nurrachmat menikah dengan Munharyati pada tahun 1970 dikaruniai tiga orang putri. Gelar sarjana Strata1 (S1) ia raih di Universitas Terbuka Tahun 1988. Tanpa putus Nurrachmat mengabdikan sebagai guru Kimia di SMA Negeri 1 Pemalang hingga tahun 2003.

Selain berhasil mendidik bangsanya, semua putri keluarga guru ini berhasil menjadi sarjana. Mereka adalah Nursasih Purwiliana,SE (Wiraswasta) menikah dengan Sugiyatno, SH.(Bidang Tenaga Kependidikan Dindikpora Kabupaten Pemalang), Reni Febriani, S.E.( PNS) menikah dengan Sakidi, SE, Akt, M.Si. (PNS) dan Lili Marfianti, S.Si (Guru Matematika SMA Negeri 1 Pemalang) menikah dengan Agus Setyo Widodo, S.Ip, M.Si. (Dosen UPS Tegal).

Nurrachmat merasa bangga apabila melihat anak didik sekarang menikmati pembelajaran bukan sebagai paksaan tapi sebuah kebutuhan. Dan mampu menghidupkan serta mengembangkan kemampuan dan juga mau mengubah pola pikir ke arah yang lebih baik.

Comment

Berita Lainnya