by

Dindikbud Kabupaten Purbalingga Merestui Belajar Tapka di Sekolah Dilaksanakan. Ini Syarat yang Harus Dipenuhi

-Pendidikan, Update-dibaca 110.40Rb kali | Dibagikan 1,589 Kali

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga telah merestui pembelajaran tatap muka (Tapka) di sekolah. Bagi Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Dasar (SD) yang akan melaksanakan kegiatan Tapka ini wajib mengikuti protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19 untuk menjaga situasi tetap kondusif dan aman.

Kepala Dindikbud Kabupaten Purbalingga, Setiyadi menuturkan, pihaknya telah menindaklanjuti Surat Edaran (SE) Bupati Purbalingga, nomor 440/14694/2020 tanggal 8 Juli 2020 mengenai panduan penyelenggaraan pembelajaran pada tahun ajaran 2020-2021 di masa pandemi Covid-19 dengan mengeluarkan SE nomor 420/1291/2020 tanggal 03 Agustus 2020 tentang penyelanggaraan pembelajaran tahun ajaran 2020/2021 di masa pandemi Covid-19 yang ditujukan kepada Kepala SMP Negeri dan Swasta di Kabupaten Purbalingga dan Koordinator Wilayah Kecamatan (Korwilcam) Dindikbud se-Kabupaten Purbalingga untuk satuan pendidikan SD.

“Ini kan ada edaran Bupati, jadi kita mendasari itu. Kita menindak lanjuti edaran Bupati untuk dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran Tapka di masa pandemi Covid-19. Satuan pendidikan harus memperhatikan berbagai pedoman, yakni sekolah wajib membentuk Tim Gugus Tugas Penanganan Covid- 19 di tingkat satuan pendidikan. Artinya, sarana prasarana harus sesuai prosedur tetap (protap) di lapangan,” tuturnya saat dihubungi media siber lintas24.com, Selasa (11 Agustus 2020).

Ia juga menegaskan, pihaknya tidak bisa memaksakan satuan pendidikan untuk melaksanakan secara serentak. Karena prinsipnya, harus menunggu persetujuan Gugus Tugas Covid-19, kemudian harus ada ceklis kesiapan, dan ada persetujuan orang tua siswa.

“Kita sarankan harus ada persetujuan orang tua atau wali siswa. Teman- teman SMP sudah membuat semacam angket, ada grup wali atau wali murid, nanti menanyakan di situ. Karena apa, tetap saja ada beda pendapat sebagaian besar minta tatap muka ada sebagian kecil yang menolak, jadi sebaiknya tetap ditanyakan kepada orang tua siswa,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, bahwa pihaknya dalam pelaksanaan tersebut akan menggunakan sistem shift, yang secara otomatis daya tampung di sekolah akan menurun.  Kemudian, Tidak dipebolehkan masuk bersamaan untuk setiap Rombongan Belajar (rombel) dan dilakukan secara bergantian. Waktu belajarpun akan dipersingkat, sehingga tidak ada jam istirahat, dan buku atau peralatan sekolah tidak diperbolehkan untuk bergantian dengan siswa lain.

“Menyesuaikan keadaan setiap sekolah. Jadi teknisnya, di sekolah wajib mengikuti protokol kesehatan yakni  jaga jarak, semuanya wajib menggunakan masker dan mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir. Guru dan siswa yang bersuhu badan diatas 37, 5 derajat Celcius tidak diizinkan memasuki ruangan dan mengikuti pembelajaran dan segera menghubungi petugas kesehatan setempat,” ujarnya.

Setiyadi juga menjelaskan, bahwa dalam situasi apapun termasuk dalam situasi pandemi seperti ini hak anak untuk belajar tidak boleh hilang, karena pendidikan adalah salah satu hal penting bagi keberlangsungan generasi penerus bangsa.

“Kita tidak tahu situasi ini kapan berakhir, sementara hak belajar anak tidak boleh hilang,” tegasnya.

Editor: Rizky Riawan Nursatria. (Mg)

 

 

Comment

Berita Lainnya