Dendam Pernah Ditampar Guru Saat Dulu Sekolah, Lukman Septiadi Balas Dendam Tampar Muridnya

By: On: Dibaca: 8,105x
Dendam Pernah Ditampar Guru Saat Dulu Sekolah, Lukman Septiadi Balas Dendam Tampar Muridnya

Pusat Pelayanan Terpadu Penanganan dan Perlindungan Korban Kekerasan Berbasis Gender dan Anak (PPT-PKBGA) Banyumas menyayangkan tindakan yang dilakukan Lukman Septiadi (27), seorang guru tidak tetap di SMK Kesatrian, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah

Ketua PPT-PKBGA, Tri Wuryaningsih mengatakan, banyak pendekatan yang seharusnya dapat ditempuh oknum guru selain kontak fisik. “Memang para korban dinilai telah nakal dan bandel, tapi hal ini tidak lantas menjadi alasan bagi guru untuk melakukan kekerasan. Sebaliknya guru harusnya melakukan pendekatan persuasif. Saya yakin jika siswa nakal ini disentuh hatinya pasti akan luluh dengan sendirinya,” jelasnya.

Sepanjang pengamatannya,  aksi penamparan yang dilakukan Lukman kepada sembilan muridnya ini merupakan buah dari pengalaman masa kecil sang guru. Dalam video kedua yang diunggah, sang guru menilai, satu-satunya cara agar muridnya dapat mengerti kesalahannya sendiri adalah dengan memberikan rasa sakit.

“Cara itu didapat oleh tersangka atas dasar pengalaman masa lalu. Ini adalah bukti betapa pengalaman akan kekerasan itu akan berbekas dan jelas menimbulkan efek berantai,” ungkapnya.

Saat ini, lanjut Tri, yang paling dikhawatirkan adalah kondisi psikis para korban. Berkaca dari kasus yang selama ini ditangani, besar potensi para korban kekerasan di usia muda ini justru kelak menjadi pelaku kekerasan saat dewasa nanti.

“Lihat saja dari kasus ini (guru tampar murid), tersangka melakukan kekerasan lantaran pernah diperlakukan serupa saat kecil dulu,” jelasnya.

Untuk itu, Tri telah berkomunikasi dengan berbagai pihak untuk mengantisipasi potensi itu terjadi kepada para korban, khususnya yang terlibat langsung dalam aksi penamparan di SMK Kesatrian tempo hari. Jangan sampai trauma dan gejolak psikis yang dialami sang murid diperparah dengan intimidasi yang mungkin datang dari teman-temannya atau bahkan guru lan di sekolah.

“Peran serta orang tua juga mutlak diperlukan, sistem kontroling yang baik harusnya dapat mencegah anak berperilaku tidak terpuji di sekolah. Orang tua harus dapat mengidentifkasi permasalahan anak, apa karena faktor guru, mata pelajaran, atau ada masalah di pergaulan teman sebaya, bahkan mungkin di lingkungan keluarganya sendiri,” pungkasnya.

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!