Daun Anthurium Terjun Bebas, Batu Akik Naik Daun

By: On: Dibaca: dibaca 13.26Rbx
Daun Anthurium Terjun Bebas, Batu Akik Naik Daun

Masyarakat Indonesia Terlalu Sering Asyik Menikmati “Demam”

Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia tengah dilanda “demam” batu akik. Batu yang dulu hanya dilirik orang tua, kini digandrungi kaum muda bahkan ibu-ibu. Ditengah kehebohan batu akik, kita mungkin masih ingat kehebohan pohon gelombang cinta dulu dan kini.

Tahun 2001 sebagian dari kita pernah mengikuti perkembangan booming harga pohon gelombang cinta. Harga tanaman mencapai jutaan. “Demam” anthurium ternyata merambah hingga ke wilayah pelosok.

Seperti yang diungkapkan oleh Suparyono (34) yang juga lebih akrab dipanggil Gopang warga Jalan Sekar Seroja 3 Nomer 4 Perum Griya Abdi Kencana Purbalingga. Dikatakan, bisnis anthurium kala itu menggelinding bak bola tak bertuan. Tak ada yang tahu pasti berapa besar volume perdagangan dan uang yang berputar setiap harinya.

“Demam anthurium kala itu tidak terlepas dari faktor bisnis yang dibentuk oleh komunitas pebisnis tanaman itu sendiri,”ungkap Gopang kepada lintas24.com.

Gopang menambahkan, harus diakui bahwa komunitas bisnis ini terlibat dalam pencarian keuntungan dari anthurium telah mampu membentuk dan menguasai pasar.Kasus-kasus dalam jual beli anthurium kelihatan sungguh sangat aneh dan tidak ketemu di nalar bagi masyarakat awam. Contoh soal, A membeli satu tanaman jemani kecil seharga Rp 450.000 dalam waktu tiga bulan dibeli B seharga Rp 750.000 oleh B langsung dijual ke C seharga Rp 7.500.000 setelah dua bulan menjualnya kembali seharga Rp 12.000.000.

“Bayangkan dalam kurun waktu enam bulan telah terjadi peningkatan harga Rp 12 juta lima puluh ribu dengan melewati tiga orang pelaku bisnis. Mungkin ini masih termasuk biasa artinya ada yang lebih spektakuler dengan keuntungan yang lebih tinggi dan waktu yang lebih singkat,”kenang Gopang.

Di Kabupaten Karanganyar, saat itu Rina Iriani Sri Ratnaningsih masih menjabat Bupati Karanganyar memang mencanangkan Kabupaten itu sebagai “Kabupaten Anturium” dan meminta masyarakat di 17 kecamatan untuk menanam berbagai jenis anturium.Baliho-baliho besar dipasang dengan mengusung jargon: “Selamat datang di Kabupaten Anturium”.

Ratusan kebun tanaman hias memenuhi kiri-kanan jalan raya. Tiba di kawasan Karangpandan, Tawangmangu, dan Ngargoyoso, kebun bunga makin berjubel di mana-mana. Penduduk membangun kotak-kotak di depan rumah sebagai semacam “etalase” untuk memajang tanaman.

Bersamaan dengan itu, “demam” anthurium pun terjadi dimana-mana. Hampir setiap bulan pameran dan berbagai acara kontes anthurium dilakukan di berbagai kota di Indonesia. Tak cukup dengan itu, banyak berkeliaran pemburu dan penyergap anthurium. Setiap hari para broker ini berkeliling dari satu rumah ke rumah mencari anthurium yang sesuai, baik jenisnya, kualitas dan tentu saja harganya.

Harga Terjun Bebas

Sebenarnya saat itu yang terjadi bukan booming, melainkan perilaku rakus dan ingin cepat kaya dari orang-orang tertentu. Permainan dari pemilik modal di kalangan atas, yang menghembuskan berita bahwa Anthurium adalah sesuatu yang berharga mahal. Membuat seolah-olah harganya terus menggila. Ketika harga sudah bisa dipastikan akan terus menggila, maka mereka mulai menyediakan stock sebesar-besarnya. Ketika harga sudah cukup menggila,semua stock mereka lepas kepada masyarakat awam yang tentunya memberikan keuntungan tak terhingga bagi mereka.

Setelah stock mereka habis, maka mereka menghentikan permintaan yang akhirnya membuat harganya menjadi terjun bebas ke harga semula bahkan lebih parah lagi. Tanpa memperdulikan berapa orang yang benar-benar menjadi gila karenanya, banyak berapa keluarga yang hancur karenanya.

Booming itu ternyata hanya sebentar, mereka yang rakus dan tergila-gila dengan impian keuntungan berlipat-lipat, menimbun anthurium daun secara massal akhirnya gigit jari.

Tak ada lagi yang mau membeli komoditas ini. Sementara tanaman itu memerlukan tempat, memerlukan perawatan, dan si penimbun hanya bisa berharap, harga akan naik lagi. Padahal booming itu hanya akan terjadi sesaat, dan sekali.

Pemilik anthurium terlanjur investasi sampai milyaran rupiah, sekarang hanya berharap akan koleksinya cepat laku, berapa pun harganya. Termasuk yang sudah terlanjur investasi secara besar-besaran.

Batu Akik Naik Daun.

Demam batu mulia, batuan bercorak atau akik hingga batuan alam polesan makin melanda berbagai kalangan di Indonesia. Fenomena ini cukup menarik mengingat di era 80-an hingga 90-an, batu akik identik dengan perhiasan murah yang dijual di emperan toko.

Bagyo Suprapto (40), warga Desa Pekiringan RT 01/09 Kecamatan Karangmoncol Purbalingga memulai membuat batu akik sejak akhir tahun 2012.Diungkapkan, waktu itu belum banyak yang mengetahui, bahwa sesungguhnya batu dari Kali Karanglah yang  memiliki kualitas baik untuk perhiasan dibanding batu-batu disungai lainnya. Kali Karang merupakan sungai yang mengalirkan air ke Sungai Gintung dan Sungai Klawing di sepanjang Kabupaten Purbalingga.

“Sungai Karang di Karangmoncol memiliki hulu di Gunung Slamet sisi timur, melewati Sungai Klawing dan menyatu dengan Sungai Serayu di Banyumas. Di sungai ini terdapat potensi besar batu perhiasan yang belum tergarap optimal,”ungkap Bagyo.

Di sepanjang daerah aliran saungai Karang terdapat bermacam jenis batu yang memiliki nilai ekonomis tinggi jika digarap menjadi perhiasan seperti akik atau liontin. Ada dua jenis batuan yang menjadi buah bibir di dunia gem (permata) tanah air yaitu jenis le sang du Christ atau batu darah Kristus dan pancawarna. Selain itu ada pula jenis lain seperti badar besi, biduri lumut, naga sui, kinyang, dan fosil kayu.

“Pencarian batuan bahan tidak bisa dipastikan, artinya saat mencari batuan bahan, kita tidak bisa memastikan akan mendapatkan batuan bahan jenis tertentu,”tegas Bagyo.

Pasalnya, Semua bergantung pada keberuntungan dan julung (bahasa jawa yang berarti sesuai dengan grade jiwa dan spiritual sang pencari. Batuan bahan yang bagus dan mengandung daya induksi makrokosmos yang kuat kebanyakan terbungkus oleh kulit yang biasa dan pekat sehingga dalam mencari bahan di lokasi terkadang diperlukan palu untuk memecah batuan bahan temuan.

Batu akik sebenarnya menyimpan banyak pesan dan makna sosial yang cukup beragam, batu mulia atau batu akik memberi pesan dan makna sebagai perhiasan, pemberi kekuatan, tingkatan spiritualitas, daya mistis, penolak bala, pemberi ketenangan jiwa maupun identitas kehidupan sosial lainnya.

Tahun 2015 ini tren batu akik mengalami pegeseran. Budaya batu akik ini sebenarnya telah lama berkembang sejak zaman Kerajaan dahulu, bedanya dahulu mayoritas penggunanya adalah dari kalangan orang-orang tua atau laki-laki dewasa. Kini batu akik atau batu mulia lainnya semakin menjadi tren di kalangan anak muda.

Semakin banyak dari mereka yang gemar mengoleksi atau menggunakan perhiasan tersebut sebagai cincin, dan sebagainya. Mereka tak segan-segan mengeluarkan kocek hanya untuk mendapatkan batu yang mereka sukai, bahkan bisa mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah.

Di Indonesia memang ada beberapa daerah yang biasa menghasilkan batu mahal, seperti provinsi Banten, Sumatera Barat, Lampung dan Kalimantan. Saat ini batu mulia yang paling diminati adalah batu jenis nagasui kali klawing Purbalingga, amethyst atau kecubung, zamrud, ruby, safir, kalimaya, dan batu bacan.

Lalu bagaimana batu akik menjadi bagian gaya hidup kaum muda dan kalangan menengah? Gaya hidup kaum muda dan kalangan menengah, berjalan seperti kumparan yang saling terlilit. Mereka saling terlekat dan mempengaruhi. Kaum muda dan kalangan menengah menjadi pelaku gaya hidup itu sendiri. Termasuk bagaimana kaum muda dan kalangan menengah saat ini sedang mengandrungi batu mulia atau batu akik, kondisi ini telah menjadi perhatian baru.

Tentu saja bukan hanya sekedar mengagumi keindahan batu mulia tersebut, melainkan keinginan pemakaiannya dalam memberikan pesan dan makna sosialnya kepada siapa saja yang melihatnya.

Perbup dan Rekor Muri

Kebijakan Bupati Purbalingga dalam mengembangkan kerajinan batu akik Klawing sempat mendapat tanggapan negative dari sejumlah pihak. Terutama adanya kekhawatiran akan terjadinya kerusakan lingkungan akibat eksploitasi  bahan batu akik secara besar-besaran

Bupati Sukento Rido Marhaendrianto beranggapan, dengan adanya kebijakan pengembangan batu akik Klawing, masyarakat justru akan semakin tahu dan mengenal potensi kekayaan alam yang dimiliki. Sehingga timbul upaya dari masyarakat terutama para pelaku kerajinan batu akik untuk ikut menjaga agar potensi itu tidak dieksploitasi secara besar-besaran.

Bupatipun menyiapkan regulasi yang akan mengatur pendayagunaan batu Klawing. Nanti kita susun peraturan bupati (perbup-red). Ia bahkan sudah memerintahkan kepada jajaran kepala desa, camat dan pemangku kepentingan lainnya untuk peduli dengan lingkungannya.

Dua tiga tahun yang lalu, masyarakat Purbalingga belum banyak yang mengerti potensi ekonomi yang dimiliki batu Klawing. Saat itulah justru terjadi ekspoitasi besar-besaran oleh para kolektor batu dari luar daerah, kemudian bahan batu akik Klawing dibawa keluar daerah dan dikembangkan di daerah lain. Saat batu Klawing booming, maka yang untung  bukan masyarakat Purbalingga tetapi para kolektor yang sudah mengeruk kekayaan alam Purbalingga itu.

Bupati segera mewajibkan PNS bukan hanya menjadi pemakai batu akik Klawing tetapi juga agar bisa  menjadi pemasar. Potensi PNS di Purbalingga hampir mencapai 10.000 orang. Kalau separonya dapat memasarkan kepada teman-temannya di luar daerah, maka produksi ekonomi kerakyatan akan tumbuh. Dan sekarang sudah mulai dirasakan oleh masyarakat.

Upah memoles satu buah batu akik berkisar antara Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu. Dari pantauan yang dilakukan, seorang perajin, dalam sehari dapat memoles sedikitnya empat buah batu akik. Sehari penghasilan mereka Rp 100 ribu. Sebulan bisa mencapai Rp 3 juta. Sudah diatas UMR Purbalingga.

Pun Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo dilanda “demam” batu akik sehingga dalam rangka Hari Jadinya, Pemkot menggelar acara jalan sehat. Jalan sehat ini bukan jalan sehat biasa, pasalnya dalam kegiatan ini semua peserta wajib memakai batu akik.Seluruh pesertanya wajib memakai batu akik, dan kita optimis kita akan dapat rekor MURI dengan melibatkan seluruh pecinta batu baik dari dalam maupun luar kota Gorontalo dan ditargetkan akan memecahkan rekor MURI.

Peran Media Massa

Media masa memiliki peran yang sangat besar. Media elektronik maupun media cetak keduanya ikut andil dalam membentuk opini masyarakat, menyampaikan informasi harga, perkembangan dan tren baik tanaman maupun batu akik.

Media cetak terlihat lebih dominan perannya dibanding media elektornik, selain jumlahnya yang lebih banyak juga intensitas pemberitaan lebih tinggi.

Tabloid khusus tanaman dan batu akik dipenuhi tampilan-tampilan foto andalan. Oplahnya terlihat naik akibat dampak “demam” anthurium dan batu akik ini. Tabloid- tabloid baru bermunculan pula menambah semakin meningkatnya “demam” anthurium dan batu akik.Penjualannya sangat fantastis dan masuk kategori laris.

Pun Mungkin masyarakat Indonesia masih ingin merasakan “demam” ini agak lama.Diakui ataupun tidak untuk saat ini media massa jugalah yang dapat menjadi penyembuh “demam” batu akik.(mahendra yudhi krisnha)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!