Danar Akhiri Laela, S.Pd – Jadikan Ruang BK, Ruang Ramah Siswa

By: On: Dibaca: dibaca 146.81Rbx
Danar Akhiri Laela, S.Pd – Jadikan Ruang BK, Ruang Ramah Siswa

 

danar (1)

 

Danar Akhiri Laela, S.Pd

Guru BK SMP Negeri 5 Purbalingga

Satu fenomena yang sampai sekarang masih sering mengganggu, adalah siswa selalu dikonotasikan ada masalah manakala dipanggil guru Bimbingan Konseling (BK). Untuk menghapus anggapan itu, tentu saja guru BK memberikan porsi perhatian yang sama kepada siswa-siswa yang berprestasi.

Hal itu diungkapkan Guru BK SMP Negeri 5 Purbalingga Danar Akhiri Laela, S.Pd . Dikatakan Danar, atas perilaku buruk siswa sering juga guru BK sendiri memasang wajah tidak bersahabat kepada siswa agar siswa tidak melanggar peraturan.

Sehingga, para siswa akan menanamkan anggapan, seumur umur jangan sampai berurusan dengan BK!,”ungkapnya kepada elemen dan lintas24.com.

Nah, untuk mencapai situasi yang ideal, guru BK dituntut memiliki kompetensi lebih dari cukup dalam soal knowledge, skill sikap mental, dan juga kemampuan berkomunikasi yang baik , memiliki penguasaan tehnik konseling mengedepankan empati sesuai dengan jenis pelayanan yang akan diberikan. Jika dahulu, ada pernyataan BK sebagai polisi sekolah. Sejatinya pernyataan itu sepenuhnya tidak benar, sangat kasuistik.

“Masuk ruang BK pasti bermasalah, semestinya segera berubah dengan repositioning “Guru BK Sahabat Siswa. Menjadikan ruang BK sebagai ruang yang ramah siswa,” kata guru yang mulai mengajar di SMPN 5 Purbalingga sejak tahun 2006 ini.

Guru yang selalu mengenakan jilbab menjelaskan, ramah siswa artinya mengijinkan siswa untuk hadir ke ruang BK untuk keperluan tertentu misalnya hanya sekedar bercerita curahan hati (curhat). Namun, menurutnya, masih terdapat stigma yang masih mengganggu yaitu siswa selalu dikonotasikan ada masalah manakala dipanggil guru BK.

“Saya yakin, konotasi akan hilang apabila diimbangi dengan memberikan porsi perhatian yang sama kepada semua siswa, termasuk yang berprestasi,”ungkapnya.

Kuncinya lanjut Danar, jangan sampai siswa justru tidak mendapatkan saluran ‘kartarsis “nya (pelepasan emosi-red). Karena hal itu akan membuat siswa mencari jalan keluarnya sendiri yang cenderung negatif. Sesungguhnya Guru BK adalah sahabat Siswa bukan stigma bahwa guru BK cenderung menjadi” polisi” bagi siswa, interrogator.

Istri Tri Rahmat Waluyo S.Pd menceritakan, selama ini peran dan citra seorang guru BK di mata murid dan masyarakat cenderung negatif. Seolah-olah hanya sebagai satpam dan polisi sekolah, yang identik dengan tugas memarahi dan menasihati anak bermasalah. Seperti berdiri di depan pintu gerbang menunggu siswa yang terlambat, menghakimi siswa yang berkelahi, bahkan guru BK memegang POIN pelanggaran sekolah.

“Dengan anggapan seperti itu maka jarang sekali siswa-siswa yang mau menemui guru BK di kantor BK, karena mereka bisa takut dan teman yang lain akan beranggapan setiap siswa yang datang ke ruang BK adalah siswa yang memiliki masalah,”ungkapya.

Berangkat dari potret itulah harus dibangun paradigma baru bagi guru BK. Menjadi sahabat siswa, kuncinya menjadikan guru BK tempat siswa ” curhat”, bertanya , merancang masa depan nya sekaligus mendapat solusi yang tepat.

“Pada tahap inilah guru BK dapat memotivasi siswa untuk tangguh menghadapi tantangan hidupnya,” ungkapnya.

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!