by

Dalam Sidang PK, Rizieq Bela Abu Bakar Ba’asyir

-kriminal-dibaca 109.90Rb kali | Dibagikan 24 Kali

Habib Rizieq Bela Mati-matian Baasyir

CILACAPPerjuangan Abu Bakar Ba’asyir menggapai keadilan bagi dirinya yang didakwa sebagai pelaku terorisme, ternyata penuh liku dan melelahkan.

Ustadz sepuh pemimpin Pondok Pesantren Ngruki, Solo, ini kini harus mendekam di Lapas Batu, Nusakambangan, Cilacap, menunggu proses sidang peninjauan kembali (PK) dirinya di Pengadilan Negeri (PN) Cilacap, yang kini memasuki episode kedua.

Sebelumnya, Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan menjatuhkan vonis 15 tahun penjara kepada Ba’asyir.

Di tingkat banding, hukuman Ba’asyir dikurangi menjadi 9 tahun. Namun, di tingkat kasasi, Mahkamah Agung (MA) membatalkan putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Nomor 332/Pid/2011 PT DKI pada bulan Oktober 2011 lalu. Sehingga, vonis Ba’asyir kembali menjadi lima belas tahun penjara sesuai vonis yang diberikan PN Jakarta Selatan.

Ba’asyir dinyatakan bersalah akibat perbuatannya memberikan dana sebesar Rp 350 juta untuk keperluan latihan militer teroris di Aceh.

Pada 6 Oktober 2012, Ba’asyir mendekam di Lapas Nusakambangan setelah sebelumnya menghuni LP Batu. Pengacara pun keberatan dan mengajukan peninjauan kembali (PK).

Sidang PK Ba’asyir sudah digelar dua kali di PN Cilacap. Pada sidang PK kedua yang digelar Selasa (26/1), sejumlah saksi meringankan dihadirkan oleh pengacara Ba’asyir yang tergabung dalam Tim Pembela Muslim (TPM).

Dari kelima saksi yang dihadirkan terdapat nama Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab.

Di depan hakim, Rizieq menceritakan perihal pelatihan militer di Aceh yang berujung kontak senjata dengan polisi. Habib Rizieq menceritakan, ada seseorang bernama Sofyan Tsauri yang mengaku veteran perang Afghanistan dan pernah mendirikan kamp di Pulau Mindanao, Filipina. Dia menjadi pelatih relawan Aceh yang akan berjihad di Palestina. Pelatihan militer di Pegunungan Jalin Janto, Aceh, itu telah merekrut dua dari 10 anggota FPI cabang Aceh yang sebelumnya telah mengikuti latihan militer.

Baca Juga:  Korupsi, Mantan Direktur Perusda Purbalingga Ventura Dituntut 4 Tahun Penjara

“Sekitar 23 Januari hingga 25 Januari 2009, Sofyan kami terima sebagai pelatih dengan memberikan materi berupa beladiri, fisik, hingga pertahanan tanpa senjata api dan kami menggunakan senjata dari kayu untuk latihan perang,” jelasnya.

Rizieq lantas menepis semua tudingan yang mengarah kepada keterlibatan Abu Bakar Ba’asyir dalam kasus terorisme dan pelatihan senjata di Aceh.

Berikut penuturan Habib Rizieq yang dirangkum lintas24.com.

Dalam kesaksiannya, Rizieq meminta majelis hakim mempertimbangkan untuk membebaskan Abu Bakar Ba’asyir. Alasannya, tudingan terhadap Ba’asyir tidak dapat dibenarkan.

“Sangat tidak masuk akal Syekh Abu Bakar Ba’asyir dituduh terlibat pelatihan militer di Aceh, ini sangat tidak masuk akal. Karena itu kami minta beliau dibebaskan dari semua tuduhan,” ujar Rizieq, Selasa (26/1).

Dia mengakui, tidak hanya dari FPI yang merasa kecolongan karena anggotanya ikut dalam latihan militer di Aceh. Dia menyebut organisasi yang dipimpin Abu Bakar Ba’asyir juga kecolongan karena anggotanya ada yang ikut latihan tersebut tanpa persetujuan dan pemberitahuan.

Hingga Rizieq menyimpulkan, Ba’asyir tidak terkait sama sekali dengan kegiatan pelatihan militer di Jalin Janto itu. “Aktor utama yang merencanakan pelatihan tersebut adalah Muhammad Sofyan Tsauri yang juga merekrut anggota FPI Aceh tanpa sepengetahuan kami,” tandas Rizieq, seraya menambahkan bahwa selama ini Abu Bakar Ba’asyir tidak pernah mengajarkan untuk melanggar aturan agama dan negara atau menganjurkan ajaran terorisme.

Selama ini, menurut Rizieq, Abu Bakar Ba’asyir tidak menginginkan latihan perang dengan menggunakan senjata karena saat pertemuan di sebuah restoran, pemimpin Jamaah Ansharut Tauhid tersebut menganjurkan pelatihan militer secara fisik saja.

“Suatu hari saya bertemu dengan Syekh Abu Bakar Ba’asyir, saya katakan kami akan membuat latihan perang. Kemudian dia bertanya latihannya menggunakan senjata atau tidak, saya jawab tidak dan latihannya hanya fisik saja. Saat itu, beliau bilang alhamdulillah dan setuju, karena kalau menggunakan senjata benar, akan mendapat hukuman berat dari pemerintah,” tuturnya.

Baca Juga:  Menko Polhukam Wiranto : Polisi Tak Ada Maksud Membunuh Mahasiswa, Jangan Terpancing,

 Dijelaskan Rizieq, pelatihan militer di Pegunungan Jalin Janto, Aceh telah merekrut dua dari 10 anggota FPI cabang Aceh yang sebelumnya telah mengikuti latihan militer.

Menurut kronologi yang dibacakan Habib Rizieq, pelatihan militer kali pertama dilaksanakan dengan tujuan untuk persiapan menghadapi kemungkinan serangan musuh Islam, seperti yang terjadi di Palestina kala itu sekitar tahun 2009.

“Saat itu FPI mengirimkan 125 relawan jihad yang dipersiapkan untuk diberangkatkan ke Palestina di Pondok Pesantren Darul Mujahidin di Aceh. Saat itu, kegiatan seleksi tersebut diketahui pengurus FPI pusat, dan mendapat izin dari Pemprov Aceh, kodam, dan polres setempat,” kata Rizieq. (estanto)

Comment

Berita Lainnya