by

Curi Tiga Tandan Pisang, Enam Anak Diserahkan ke Polisi

-kriminal, Pendidikan-dibaca 171.51Rb kali | Dibagikan 21 Kali

Enam tersangka pelaku pencurian enam tandan pisang di kebun milik Rusmadi, warga RT 1 RW 1, Desa Palumutan, Kecamatan Kemangkon, Senin (11/5) petang, diserahkan ke polisi.

Masing-masing, Susanto (19), GE (17), TK (15), ES (15), RC (15) dan WS (12), mereka adalah warga Palumutan dan Karangtengah, Kecamatan Kemangkon.

Dari keterangan yang dihimpun Lintas24.com mereka ditangkap oleh warga beberapa jam setelah diduga melakukan pencurian. Mereka menebang tiga tandan pisang di kebun milik Rusmadi, Senin (11/5) sekitar pukul 19.00. Pisang tersebut kemudian dimasukkan dalam kandi dan dijual kepada seseorang di Desa Karangkemiri, Kecamatan Kemangkon.

Sebelumnya warga merasa curiga akan gelagat dan mengintai perbuatan anak-anak tersebut. Setelah kembali ke pekarangan, warga menghentikan anak-anak yang mengendarai motor tersebut dan menanyakan perihal pencurian pisang itu. Anak-anak itu pun mengakuinya.

Mendengar pengakuan tersebut, warga yang geram sempat main hakim sendiri dengan memukul anak-anak tersebut. Karena takut, para pelaku itu lalu kabur dan dikejar warga. Anak-anak itu akhirnya bisa ditangkap dan diamankan di rumah salah satu perangkat desa, kemudian dibawa ke Polsek Kemangkon.

“Kantor Polsek tadi (kemarin-red) malam cukup ramai karena banyaknya warga yang penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi,” kata Kepala Polsek Kemangkon, Ajun Komisaris Suprihatin.

Akhirnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, para tersangka tersebut kemudian dibawa ke Polres Purbalingga untuk ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Purbalingga.

“Harapannya jika ditangani oleh PPA, permasalahan yang menimpa pada anak-anak tersebut menjadi perhatian semua pihak. Baik orang tua, lingkungan, sekolah agar kejadian itu tidak terjadi lagi,” katanya.

Sementara itu, salah satu tersangka, ES mengaku nekat melakukan pencurian karena diajak oleh teman-temannya. Uang hasil penjualan pisang curian tersebut digunakan untuk membeli rokok dua bungkus.

Baca Juga:  Mengenal Jevany Nur Haerunisa dan Fatma Amalia Adyan Penulis Cilik dari MTs Negeri 1 Purbalingga

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Purbalingga, Ajun Komisaris Djuanidi mengatakan, pihaknya telah menerima limpahan kasus dugaan pencurian yang dilakukan oleh enam tersangka, masing-masing satu dewasa dan lima di bawah umur.

“Berdasarkan objek nilainya, barang yang dicuri di bawah Rp 2,5 juta, tepatnya sekitar Rp 70 ribu,” katanya kepada Lintas24.com.

Oleh karena itu, mengingat para pelakunya masih di bawah umur, Polres Purbalingga akan mengedepankan penyelesaian kasus ini secara diversi atau musyawarah dan restorative justice. Hal itu sesuai dengan Pasal 1 poin 7 UU No 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak.

Diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana. Sementara restorative justice atau keadilan restoratif adalah penyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/korban, dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula, dan bukan pembalasan.

“Oleh karena itu, kami akan libatkan berbagai pihak untuk hal ini. Kami akan undang korban, keluarga korban, keluarga pelaku, tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemerintah desa setempat. Sebab selain masih anak-anak, pelaku juga ada yang masih duduk di bangku SD dan akan mengikuti ujian nasional,” katanya.

Jika dalam musyawarah tersebut dicapai kesepakatan, para pelaku yang masih anak-anak tersebut akan dikembalikan ke orang tua, dan barang bukti hasil curian itu akan diganti oleh pihak pelaku.

Comment

Berita Lainnya