Cita Rasa Sambal Mentah Bu Kustiri Bertahan Puluhan Tahun

By: On: Dibaca: 130,896x
Cita Rasa Sambal Mentah Bu Kustiri Bertahan Puluhan Tahun

Warung Elok Karangreja, Spesial Ayam Goreng Kampung dan Lalapan

DSC_9738

Mempertahankan cita rasa masakan memang menjadi tantangan  tersediri bagi semua pemilik rumah makan.

Seperti halnya Kustiri (58) pemilik Warung Elok, Ia selalu berusaha menjaga cita rasa sambal mentah ulek (gilas-red) buatan tangannya. Sambal mentah super nikmat ini pasti tersaji setiap hari sebagai teman makan ayam goreng di warung yang terletak diruas Jalan Raya Purbalingga-Karangreja-Pemalang.

Warung Elok special ayam goreng kampung ini terlihat sangat sederhana, di dalamnya berisi meja kursi panjang yang tertata rapi. Warung ini sangat ramai, terutama saat jam makan siang. Karena lokasinya yang berada di pinggir jalan dan berhadapan dengan kantor Camat Karangreja, Walaupun warung makan ini selalu ramai, namun Anda akan tetap merasa nyaman berada di sana karena warung ini cukup besar.

Untuk resep sambal mentah super nikmat ini, Nenek enam orang cucu ini berkenan membuka rahasia dapurnya. Ia mengaku menjaga kulaitas bahan-bahan yang digunakan, yang akhirnya akan berpengaruh pada cita rasa akhir.

Misalnya, Tomat, akan lebih cocok dan lezat  jika langsung di ulek dalam kondisi segar. Demikian juga untuk ayam gorengnya, dipastikan harus menggunakan ayam kampung yang masih segar agar lebih yang lebih gurih dan lezat.

Ulekan sambal Kustiri ini, resepnya sangat sederhana sekali resepnya, sambal ini merupakan hasil “kompak bersatunya” cabe rawit merah, hijau, dan keriting, bawang merah, tomat merah, terasi yang sudah di bakar, serta garam, gula pasir, minyak goreng dan jeruk limau.

“Perlu diperhatikan semua hal yang dianggap sepele itu. Intinya harus dalam menjaga konsistensi cita rasa diperlukan ketelitian agar sebisa mungkin mendekati cita rasa yang dijadikan standar,”ungkap Kustiri kepada lintas24.com dan Tabloid Elemen. Sabtu (15 Oktober 2016).

Kustiri menceritakan, awalnya dia dan sang suami (alm) Rupadi Atmo Saputro membuka warung makan di tahun 1974. Berawal dari sang suami penggemar sambal mentah. Sambal ini selalu menjadi menu wajib yang harus tersedia di meja saat makan, walaupun lauk makanan lainnya berubah.

Sambal mentah ini selalu pas jika dipasangkan dengan berbagai macam sayur apalagi dengan jengkol atau pete (petai-red) mentah dan belum dimasak. Atas saran suami, sejak saat itu sambal mentah ini harus tersedia di warungnya.

“Bapake almarhum, riyin remen dahar lawuh sambel mentah, lha sambele kedah pedes banged, trus ditambah jengkol napa pete mentah, dicowelaken sambel niku (Bapake = sebutan untuk almarhum suami, senang sekali makan dengan lauk sambal mentah, sambanya harus pedas, kemudian ditambah jengkol atau petai lalu dicocol ke sambal itu,”kenang Kustiri.

Ibu dari Arif Widiyanto, S.Pd Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (PJOK) di SMA Negeri 1 Karangreja dan Eni Widyawati, S.Sos Istri Bupati Purbalingga ini menceritakan, banyak pengunjung yang selalu kangen dengan sambel mentahnya.

Rasa kangen itu yang membuat para pengunjung kembali lagi dan menjadi pelanggan setia.

Ada cerita lagi, beberapa keponakan suatu ketika makan ayam goreng dan sambal mentah dengan nasi hangat di warung. Sepulang dari warung, mereka meminta ibunya untuk membuatkan sambal seperti diwarung, namun mereka merasakan beda dengan sambal diwarung. Sang Ibu akhirnya tergopoh-gopoh ke warung dan bertanya apa resepnya.

Jane apa sambele resepe apa sih mbekayu, kae bocah jere miki mangan sambel nang kene enak banged, barang aku kon nggawe jere ora pada rasane ( sebenarnya apa resep sambelnya embak-(sebutan kakak perempuan di Jawa Tengah), ketika saya membuat sambal katanya rasanya tidak sama,”tuturnya.

Jawabannya sangat sederhana lanjut Kustiri, membuatnya harus dengan sentuhan hati dan cinta. Padahal sebenarnya, bahannya sangat mudah ditemukan didapur. Bahannya itu hanya cabe rawit merah dan  hijau bebas, cabe keriting, bawang merah, tomat merah, terasi yang sudah di bakar, garam, gula pasir, minyak goreng dan jeruk limau.

“Pastikan ulekannya yang harus pas dengan insting hati dan perasaan,”ungkapnya.

Kustiri menambahkan, menu andalan warung makan ini tentu saja adalah ayam gorengnya. Ayam yang digunakan adalah ayam kampung. Karena yang digunakan adalah jenis ayam kampung, maka ukuran ayam goreng ini pun jauh lebih kecil dibandingkan dengan ayam goreng yang menggunakan ayam potong.

“Rasa ayam goreng ini sangat gurih, dagingnya padat dan empuk. Tidak seperti ayam goreng pada umumnya,”ungkapnya.

Udhi salah satu pengunjung mengungkapkan, sudah lama tidak menikmati sambel mentah buatan Embah Putri Ru (sebutan untuk Kustiri istri almarhum Rupadi) yang terkenal super nikmat. Dulu saat anak-anak, sekitar tahun 1986-1994 sering diajak makan oleh orang tua untuk menikmati ayam goreng dan sambal mentah ini. Kalau tidak salah, warungnya bukan disini tetapi dipinggir jembatan.

“Ini saya baru kirim foto lewat WhatsApp ke kakak saya di Bekasi, biar dia nanti saat pulang kampung bisa bernostalgia menikmati sambal mentahnya Embah Putri Ru. Cita rasa sambal mentahnya masih sama seperti dulu. Saya saja sekarang umurnya 41 tahun. Luar biasa, bisa bertahan puluhan tahun,”kenang Udhi.

Udhi mengungkapkan, keistimewaan ayam gorengnya itu terletak pada rasanya yang sangat gurih dan cenderung asin, sangat cocok dinikmati bersama nasi hangat, sambal mentah dan lalapan. Sebagai penutup, segelas es jeruk manis akan menambah kenikmatan bergoyang lidah.

Jika Anda dari arah Kabupaten Purbalingga sedang melakukan perjalanan menuju Kabupaten Pemalang melalui ruas jalan utama Karangreja-Pemalang pasti akan melewati Warung Elok disebalh kiri jalan. Cobalah untuk menyempatkan diri ke daerah perbatasan Kabupaten Purbalingga dan Pemalang ini, dijamin Anda tidak akan menyesal.(yoga tri cahyono)

 

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!