Cincin Buatannya Tidak Mudah Penyok

By: On: Dibaca: 18,453x
Cincin Buatannya Tidak Mudah Penyok

Robbil Pengrajin Cincin dari Desa Bungkanel Purbalingga

Mata Robbil Rosyidi (49) setengah memicing mata mengamati sebuah kerangka perak berwujud daun dengan ruas-ruas seukuran kuku orang dewasa. Menggunakan pinset, dijalinnya untaian benang perak yang telah dibentuk bergelombang ke dalam ruas-ruas itu.

Pria yang berdomisili di Desa Bungkanel RT 01 RW 01 Kecamatan Karanganyar ini tengah menggunakan teknik merangkaikan benang perak halus ke dalam kerangka atau bingkai yang juga berbahan perak. Benang dibentuk sesuai motif yang diinginkan sehingga menghasilkan kerawang yang halus, detail, dan rumit.

“Saya sejak pagi sibuk menyelesaikan pesanan cincin perak untuk akik batu Nagasui,”ungkap Robbil (15/3) kepada lintas24.com.

Proses pembuatan, mulai dari pengerjaan batangan perak hingga pemolesan akhir, pun masih murni mengandalkan keterampilan tangan perajin dengan hanya dibantu peralatan manual. Sama sekali tidak ada sentuhan mesin serba otomatis.Namun dengan mengutamakan desain yang selalu up to date dan kualitas bahan baku yang digunakan, produk buatannya kini siap bersaing dengan kerajinan serupa yang diproduksi para pengrajin lain.

“Walau pembuatannya secara manual namun dari segi kualitas dapat dipercaya. Tapi ya itu, pemesan harus bersabar, karena pengerjaan masih manual,”ungkapnya.

Pria berwawasan luas dan menguasai pembuatan perhiasan berupa bros, cincin, kalung, gelang, anting, giwang, dan perhiasan lain untuk perempuan menceritakan awal mulanya mencoba peruntungan di bisnis kerajinan perhiasan

Pengalamannya sebagai pekerja selama 10 tahun di Jakarta memproduksi perhiasan dari emas dan perak, ternyata menjadi modal awal bagi untuk merintis bisnis kerajinan logam.

“Di tanah kelahirannya, kerajinan ini sudah sulit sekali ditemukan. Tahun 1998, saya putuskan untuk mudik ke Desa Bungkanel, karena krisis moneter (krismon) saat itu terjadi di Indonesia,”kenang Robbil.

Robbil mengakui, menekuni pekerjaan sebagai perajin kemasan telah menjadi ketetapan hatinya. Perajin perak harus butuh kesabaran, ketekunan, dan ketelitian tinggi.

Pelan tapi pasti dirinya mencoba membuka hubungan dengan pemilik toko emas yang ada di Bobotsari, Purbalingga dan Purwokerto. Akhirnya, tak sedikit toko emas menjadi pelanggan tetap sejak tahun 2000.

“Selain toko yang sudah menjadi pelanggan, biasanya pemesan yang datang kebanyakan masyarakat yang sudah kenal atau orang yang tahu dari mulut ke mulut. Kebanyakan masih warga Kabupaten Purbalingga, kalau dari luar paling Bumiayu Tegal,” kata Robbil.

Meningkatnya geliat bisnis batu akik saat ini menjadi berkah tersendiri. Dulu sebulan mengerjakan 10 buah, sekarang harus mampu menyelesiakan pesanan 30 buah cincin berbagai ukuran.

“Sekarang sedang kebanjiran pesanan, setiap harinya selama sebulan terakhir ini harus mau menambah jam kerja hingga malam hari,”ungkapnya.

Untuk pembuatan satu buah cincin Robbil membanderol seharga Rp 40.000- Rp.60.000.Untuk harga bahan baku emas atau perak disesuaikan harga pasar.

“Cincin hasil buatannya dijamin lebih awet ketimbang buatan pabrik yang mudah penyok,”ungkap Robbil.(Mahendra Yudhi Krisnha)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!