Bupati Tasdi Tularkan Ilmu Kepemimpinan Kepada Calon Kader Bela Negara

By: On: Dibaca: dibaca 52.61Rbx
Bupati Tasdi Tularkan Ilmu Kepemimpinan Kepada Calon Kader Bela Negara

Untuk kedua kalinya, Bupati Purbalingga H. Tasdi, SH, MM tak segan menularkan ilmu kepemimpinan kepada para peserta Pembentukan Kader Bela Negara kabupaten Purbalingga. Mereka mendapat pembekalan ilmu kepemimpinan langsung dari orang nomor satu di kabupaten Purbalingga sekaligus mantan Ketua DPRD dua periode.

Menurut Bupati, keberhasilan dirinya dua kali menjadi Ketua DPRD Purbalingga periode 2004 – 2009 dan periode 2009 – 2014 yang kemudian berlanjut pada jabatan sekarang sebagai Bupati Purbalingga, karena dirinya selalu menerapkan model kepemimpinan demokratis dan partisipatif.

“Saya harus meniru gaya kepemimpinan Soekarno (Proklamator-red). Dimana kita harus mengubah perbedaan-perbedaan menjadi sebuah keuntungan. Modelnya adalah kepemimpinan yang partisipatif demokratis,” ujar Bupati Tasdi saat menjawab pertanyaan salah seorang peserta pembentukan kader bela negara, Irma Setiani, Rabu (22/11).

Pada sesi tanya jawab, Irma yang menjadi utusan kecamatan Bobotsari menanyakan gaya kepemimpinan apa yang dikembangkan bupati sehingga pernah menjadi Ketua DPRD Purbalingga dua periode. Dikatakan Bupati, menyitir pendapat Gillies (1994) tidak ada gaya kepemimpinan yang jelek dan tidak ada kepemimpinan yang selalu tepat untuk setiap situasi.  Hal ini mengandung arti, kita harus selalu melihat siapa yang kita pimpin dan siatuasi seperti apa pada waktu itu. “Untuk kontek menjadi pimpinan DPRD, saya harus mengembangkan model kepemimpinan yang demokratis dan partisipatif,” jelasnya.

Dijelaskan Bupati, gaya kepemimpinan demokratis memiliki ciri ciri antara lain memposisikan orang-orang yang dipimpinya sebagai subyek serta berusaha memanfaatkan kemampuan setiap orang yang ada dalam organisasi untuk selalu berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Kemudian dalam mengambil keputusan mementingkan diskusi dan musyawarah serta berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork.

Sedangkan gaya kepemimpinan partisipatif, merupakan gabungan antara otokratik dan demokratik dimana pemimpin menyampaikan hasil analisa masalah dan mengusulkan tindakannya, kemudian meminta saran kritik dan respon staf terhadap usulnya. Pada gaya kememimpinan ini,lanjut Bupati, keputusan akhir dilakukan oleh kelompok.

Disamping itu,katanya, selama menjadi ketua DPRD, dirinya mengembangkan tiga hal wajib dimiliki seorang pemimpin yakni knowledge, skil dan attitude. “Jadi kenapa saya menjadi ketua DPRD 10 tahun lebih karena saya mengembangkan tiga hal itu. Jadi ketua dewan harus mengerti (Berpengetahuan-red) jangan sampai ada instruksi tidak bisa menjawab. Harus punya keterampilan (Skill-red) memimpin rapat dan harus memberikan contoh yang baik (attitude),” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Bupati berharap kader bela negara yang mengikuti pelatihan dapat menjadi kader pemimpin bangsa yang berkarakter.

Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Drs Muhamad Nadjib, M.Si mengatakan, pelatihan bela negara tahun 2017 dilaksanakan dua angkatan. Angkatan pertama berlangsung 13 – 18 November 2017 diikuti 270 peserta yang terdiri 224 peserta putra, dan dilanjutkan angkatan II dengan jumlah peserta yang sama mulai tanggal 20 – 25 November 2017.

“Pelatihan bela negara untuk memperkuat karakter peserta yang cinta tanah air dan memiliki semangat untuk membela negara dari segala ancaman,” katanya.

Materi yang diberikan antara lain wawasan kebangsaan, nasionalisme, kepemimpinan, tata aturan hukum, baris berbaris, anti narkoba, ketenagakerjaan, tata upacara militer dan sejumlah materi lainnya.

Tahun lalu, telah dilatih 540 orang kader bela negara, namun yang lulus hanya 499 orang. Tahun ini, juga akan dilatih 540 orang, dan diharapkan peserta yang tidak lulus semakin sedikit. Seperti yang diminta Bupati, tim pelatih untuk memilih 10 orang peserta terbaik, dan akan mendapat penghargaan.

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!