BUDAYA LITERASI SEBAGAI PONDASI EDUKASI BANGSA

By: On: Dibaca: 138,895x
BUDAYA LITERASI SEBAGAI PONDASI EDUKASI BANGSA

 

Oleh : Agus Andoyo Sulyantoro(*)

andoyo

SAAT INI wacana tentang masyarakat sedang bergeser dari pandangan sosial politik dengan konsep masyarakat madani civil society ke arah pandangan pendidikan dengan konsep literasi madani civil literacy. Literasi madani merupakan kemampuan masyarakat untuk membaca agar mampu memberikan keputusan sosial yang bertanggung jawab dan kemampuan menulis secara kritis untuk mengaktualisasikan peran sosialnya.

Dengan demikian, konsep masyarakat madani yang menghargai partisipasi publik harus ditunjang oleh kemampuan literasi yang baik, salah satunya adalah membaca dan menulis. Membaca dan menulis menjadi sarana untuk mengekspresikan gagasan dan pikirannya secara tepat, bernalar, dan beretika, menuju  masyarakat yang cendekia sekaligus literat.

Membaca-menulis (literasi) merupakan salah satu aktifitas penting dalam hidup. Sebagian besar proses pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi. Budaya literasi yang tertanam dalam diri peserta didik mempengaruhi tingkat keberhasilan baik di sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Tidak berlebihan kiranya Farr (1984) menyebut bahwa “Reading is the heart of education”. Bagi masyarakat muslim, pentingnya literasi ditekankan dalam wahyu pertama Allah kepada Nabi Muhammad SAW, yakni perintah membaca (IQRA’) yang dilanjutkan dengan ‘mendidik melalui literasi’ (‘ALLAMA BIL QALAM).Sedangkan dalam kaitannya dengan menulis, Hernowo (2005) dalam bukunya “Mengikat Makna” menyebut bahwa menulis dapat membuat pikiran kita lebih tertata tentang topik yang kita tulis, membuat kita bisa merumuskan keadaan diri, mengikat dan mengonstruksi gagasan, mengefektifkan atau membuat kita memiliki sugesti (keyakinan/ pengaruh) positif, membuat kita semakin pandai memahami sesuatu (menajamkan pemahaman), meningkatkan daya ingat, membuat kita lebih mengenali diri kita sendiri, mengalirkan diri, membuang kotoran diri, merekam momen mengesankan yang kita alami, meninggalkan jejak pikiran yang sangat jelas, memfasihkan komunikasi, memperbanyak kosa-kata, membantu bekerjanya imajinasi, dan menyebarkan pengetahuan.

Langkah strategis yang harus dilakukan untuk menciptakan masyarakat literasi literacy communityadalah mengembangkan budaya literasi di tengah masyarakat. Ketika arus informasi semakin cepat, terbuka, dan massif kadangkala daya nalar untuk menimbang sumber dan konten informasi cenderung melemah.

Akibatnya, sering dijumpai informasi-informasi tertentu  –yang kebenarannya masih diragukan– cepat menyebar tanpa kendali, bahkan cenderung bersifat destruktif, merusak menghancurkan. Kondisi ini akan terkurangi ketika masyarakat memiliki budaya literasi yang dikembangkan dengan baik.

***

GERAKAN LITERASI SEKOLAH

Membaca-menulis (literasi) merupakan salah satu aktifitas penting dalam hidup. Sebagian besar proses literasi membantu bekerjanya imajinasi, dan menyebarkan pengetahuan.UNESCO (1996) mencanangkan empat prinsip belajar abad 21, yakni: (1)  Learning to think  (belajar berpikir), (2)  Learning to do (belajar berbuat), (3)  Learning to be (belajar, (4)  Learning to live together (belajar hidup bersama). Keempat pilar prinsip pembelajaran ini sepenuhnya didasarkan pada kemampuan literasi (Literary skills).

Dalam konteks pendidikan nasional kita, minat baca-tulis masyarakat kita sangat mengkhawatirkan. Hal ini disebabkan adanya pelbagai persoalan, misalnya:

  • Hampir semua kota-kota besar di Indonesia tidak punya perpustakaan yang memadai, padahal keberadaan perpustakaan yang memadai adalah salah satu ciri kota-kota modern di negara maju.
  • Perpustakaan yang ada di sebagian kota/kabupaten memiliki tingkat kunjungan pembaca yang rendah. Sebagai contoh di Jakarta, dari sekitar 10 juta penduduknya yang berkunjung ke perpustakaan hanya 200 orang/hari dan hanya 20% dari jumlah itu yang meminjam buku.
  • Disinyalir lebih dari 250 ribu sekolah di Indonesia, hanya 5% yang memiliki perpustakaan memadai. Hal ini merupakan fakta yang miris karena bisa menjadi indikator rendahnya budaya baca di sekolah.
  • Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menonton TV daripada membaca buku.
  • Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, seringkali belum memiliki program pengembangan literasi, atau menumbuhkan budaya baca-tulis secara sistemik. Padahal siswa menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah.
  • Terjadi lompatan dari kondisi pra-literer ke pasca-literer tanpa melalui kondisi literer. Budaya menonton lebih dominan di masyarakat kita.
  • Terjadi fenomena “Rabun Membaca – Pincang Menulis”. Penelitian Taufiq Ismail pada tahun 1996 menemukan perbandingan tentang budaya baca di kalangan pelajar, rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Singapura 6 buku, Malaysia 6 buku, Brunei 7 Buku, sedangkan Indonesia 0 buku.
  • Hasil studi Vincent Greannary yang dikutip World Bank dalam sebuah laporan pendidikan“Education in Indonesia: From Crisis to Recovery” pada tahun 1998 mengungkapkan kemampuan membaca siswa kelas VI SD di Indonesia mendapatkan poin 51,7. Jauh di bawah Hongkong (75,5), Singapura (74,0), Thailand (65,1), dan Filipina (52,6). Hasil ini menunjukkan bahwa membaca dalam sistem pendidikan nasional kita, secara faktual belum terintegrasi dengan kurikulum.
  • Produktifitas masyarakat Indonesia dalam bidang penulisan terbilang sangat rendah. Jumlah buku yang diterbitkan tidak sampai 18 ribu judul per tahun. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan Jepang yang mencapai 40 ribu judul per tahun, India 60 ribu judul per tahun, dan China 140 ribu judul per tahun (Kompas, 25/6/2012).
  • Dari bidang penerbitan tulisan ilmiah, produktifitas negara kita juga masih rendah. Berdasarkan data Scimagojr, Journal, and Country Rank 2011, Indonesia berada di ranking 65 dengan jumlah 12.871 publikasi. Posisi Indonesia di bawah Kenya dengan 12.884 publikasi. Negara Paman Sam ada di peringkat pertama, dengan 5.285.514 publikasi. Indonesia masih kalah dengan Singapura yang ada di posisi 32 dengan 108.522 publikasi (okezone.com, 21/2/2012). Jika dilihat dengan perspektif rasio publikasi penelitian dengan jumlah penduduk, persentasenya menjadi jauh lebih kecil lagi.

ANCAMAN GLOBAL (GLOBAL THREAT)

  • Rendahnya literacy awareness bangsa Indonesia sekarang ini akan semakin melemahkan daya saing bangsa dalam persaingan global yang semakin kompetitif.
  • “70 persen Anak Indonesia akan Sulit Hidup di Abad 21,” demikian kata Prof Iwan Pranoto dari ITB. Indonesia termasuk negara yang prestasi membacanya berada di bawah rata-rata negara peserta PIRLS 2006 secara keseluruhan yaitu 500, 510, dan 493. Indonesia berada di urutan ke-lima dari bawah, sedikit lebih tinggi dari Qatar (356), Quwait (333), Maroko (326), dan Afrika Utara (304).
  • Sumber Daya Manusia Indonesia kurang kompetitif karena kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, ini adalah akibat turunan dari rendahnya kemampuan baca-tulis.
  • Membaca belum menjadi kebutuhan hidup dan belum menjadi budaya.
  • Menciptakan perubahan budaya (cultural change) memerlukan proses yang panjang, sekitar 1-2 generasi, bergantung pada political will pemerintah dan kesadaran masyarakat, dengan rentang waktu 1 generasi sekitar 15-25 tahun.

SOLUSI

Melihat persoalan bangsa yang sedemikian krusial dalam hal kesadaran literasi, dibutuhkan kerjasama banyak pihak untuk mengatasinya. Paling penting adalah adanya tindakan nyata yang bukan sekadar  wacana semata.

Dibutuhkan intervensi secara sistemik, masif, dan berkelanjutan untuk menumbuhkan budaya literasi masyarakat. Pendekatan yang dianggap paling efektif adalah penyadaran literasi sejak dini dengan melibatkan dunia pendidikan. Hal ini karena tidak dipungkiri hampir seluruh anak berstatus sebagai pelajar dan melalui proses pendidikan, sebuah program yang sistematik bisa masuk dengan efektif.

Atas dasar pemikiran inilah kami menawarkan aksi nyata perbaikan budaya literasi melalui sebuah program yang disebut GERAKAN LITERASI SEKOLAH.***Jogja, September 2016. (Penulis adalah peneliti budaya, pegiat literasi, mhs. Pascasarjana Religious & Cultural Studies, Univ. Sanata Dharma, Jogja).

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!