Berburu Lele di Festival Palumbungan Wetan

By: On: Dibaca: 308,773x
Berburu Lele di Festival Palumbungan Wetan

Pemerintah Desa Palumbungan Wetan Kecamatan Bobotsari, Purbalingga menggelar kegiatan unik menyambut syawalan. Acara yang dikemas dalam Festival Palumbungan Wetan menampilkan berbagai acara yang menjadi tradisi lama. Diantaranya Parak Iwak, Berbulu Ikan Lele di kolam lumpur  hingga parade Orang-Orangan Sawah.

Festival Palumbungan Wetan dilaksanakan mulai Selasa (19/6) hingga Jumat (21/6). Ratusan warga tumpah ruah di lokasi lapangan desa. Mereka ikut ambil bagian dalam berbagai kegiatan tersebut. Ketua panitia Sugito mengatakan acara yang ditampilkan masing-masing Parak Iwak, Parade Orang-Orangan Sawah, Berburu Lele di Lumpur dan juga berbagai atraksi dolanan rakyat lainnya.

“Acara ini rutin dilaksanakan sejak tiga tahun lalu di bulan Syawal,’ ujarnya.

Diungkapkan pihaknya memilih menggelar acara tersebutb di Bulan Syawal karena pada saat itu warga pulang kampong. Diungkapkan, hampir 40% dari sekitar 1500 warga desa tersebut merantau ke luar kota. Biasanya saat lebaran mereka pulang kampung.

“Saat berkumpul dengan keluarga mereka juga mengikuti acara Festival yang menampilkan sejumlah tradisi lama,’ ungkapnya.

Pada Rabu (20/6) ratusan warga berkumpul di kolam lumpur yang ada di depan kompleks balai desa. Mulai anak-anak dan orang dewasa semua memberanikan diri masuk ke lumpur. Mereka berlomba menangkap ikan lele yang ada di lumpur.

“Yang bisa menangkap lele dengan jumlah paling banyak akan mendapatkan hadiah,” lanjut Sugito.

Sebelumnya warga juga membuat orang-orangan sawah. Boneka tersebut dipasang di sepanjang jalan desa. Kepala Desa (Kades) Palumbungan Wetan Munarso mengatakan warga desanya dulu sering membuat orang-orangan sawah. Langkah itu dilakukan untuk mengusir burung dan hama tikus yang hendak memangsa padi yang sedang ditanam. “Tradisi ini kami geliatkan lagi di festival kali ini,” ungkapnya.

Begitu pula tradisi parak iwak di sungai. Kegiatan itu dilakukan secara turun temurun terutama saat musim kemarau. Warga beramai-ramai dengan menggunakan jala melakukan parak iwak. Ikan-ikan tersebut lalu dijual dan sebagian dikonsumsi. “Tradisi-tradisi ini saat ini hampir punah. Oleh karena itu kami munculkan lagi agar bisa terus dilestarikan,’ katanya lagi.

Dia menambahkan Festival Palumbungan Wetan juga dilaksanakan bersamaan dengan hari jadi desa tersebut yang ke 15. Rencananya ke depan kegiatan tersebut akan diselenggarakan lebih semarak. ‘Warga yang merantau dan pulang kampung merasa terhibur dengan adanya festival ini. Karena  mereka bisa melihat langsung tradisi unik warga desa yang masih terus dilestarikan,” kata Sukhedi, tokoh masyarakat desa tersebut

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!