Becak Cinta Nasam Bertahan Puluhan Tahun

By: On: Dibaca: 26,717x
Becak Cinta Nasam Bertahan Puluhan Tahun

Kehidupan Nasam Pria kelahiran Purbalingga 1948 terus berputar bak roda becak. Ada saatnya diatas, ada pula masa kejayaan, kemudian meredup. Pasang surut kehidupannya selalu dilakoni dengan penuh keyakinan.

Diusia remajanya sekitar tahun 1964, Nasam sudah piawai membuat becak. Kala itu Nasam akrab dengan desing palu beradu besi dan bunyi gemercik bunga api dari hulu las. Ya becak,  sebuah alat transportasi roda tiga, dengan daya tampung normal dua orang penumpang dan seorang pengayuh.

“Tahun 1964, harga becak masih Rp. 75.000. Pesanan becak saat itu banyak sekali. Saya harus cepat dalam bekerja untuk menyelesaikan antrian pesanan orang. Pesanan becak datang dari Semarang, Jakarta dan Tangerang,”kenang Nasam warga RT 02 RW 01 Kelurahan Purbalingga Wetan.

Setelah enam tahun bergelut di kampung halaman. Nasam ingin mencoba sesuatu yang lain dalam hidupnya. Tahun 1970, ia mengadu nasib ngonthel (mengayuh-red) becak di Jakarta. Perjuangan hidup sebagai pengayuh becak di Jakarta hanya bertahan hingga sekitar tahun 1978.

Pemerintah saat itu sedang gencar melakukan pembangunan, terutama Jakarta. Becak dianggap sebagai gambaran keterbelakangan Indonesia. Kuno dan memalukan. Mulailah pemerintah mencari cara menghambat laju becak.

Gubernur Ali Sadikin mengeluarkan aturan mengenai larangan total angkutan yang memakai tenaga manusia, membatasi beroperasinya becak, dan mengadakan razia mendadak di daerah bebas becak. Ia juga yang menentukan batas waktu Jakarta bebas becak pada 1979.

Pemerintah ketika itu memprogramkan para tukang becak beralih profesi menjadi pengemudi kendaraan bermotor itu. Bahkan pemerintah menggaruk becak dan membuangnya ke Teluk Jakarta untuk rumpon, semacam rumah ikan.

“Saat itu juragan becak yang saya  ikuti meminta saya untuk membawa pulang becak-becaknya ke Purbalingga. Daripada dibuang kelaut dan dijadikan rumpon ikan,”kenang Nasam.

Sepulang dari Jakarta, Nasam memulai kehidupan baru dengan modal puluhan becak yang dibelinya dari Jakarta. Nasam kembali memproduksi becak dan dijual kepada orang lain. Nasam juga mendirikan persewaan becak yang diberi nama Brayan. Menyewakan becak kepada orang lain dengan biaya sewanyapun terbilang murah, Rp 13 setiap harinya.

Masa kejayaan becak di Purbalingga sekitar tahun 1970-1980. Fantastis, jumlah becak tembus diangka 3.000 dan tersebar diseluruh pelosok Purbalingga. Masa-masa surut produksi becak mulai terasa pada tahun 2000-an. Selain mobil pribadi, sepeda motor yang mulai membanjiri jalanan Purbalingga menjadi salah satu penyumbang merosotnya minat masyarakat memilih becak sebagai alat transportrasi. Masyarakat cenderung menjatuhkan pilihan moda transportasi bermotor yang secara teknis lebih hemat tenaga, dan menjamin kecepatan kemudian meninggalkan becak.

“Kini angkanya hanya berkisar seribu becak saja, terbanyak di wilayah perkotaan,”ungkap Nasam yang juga Ketua Paguyuban pengemudi becak Tiga Berlian.

Saat pasar domestik hampir mati, becak tak lagi banyak dicari. Menurut Nasam, pesanan becak di bengkelnya kini lebih banyak dipesan oleh para kolektor demi keperluan museum, galeri seni atau perpustakaan sejarah. Pernah juga dikirim untuk keperluan foto pra-pernikahan, riset, dan sebagainya. Ini jauh sekali dari ingatan masa kecilnya ketika bengkel bisa memproduksi ratusan becak dalam setahun.

Meski pasar tak lagi bersinar seperti dulu, para tukang becak tetap memerlukan bengkel-bengkel reparasi. Harapan akan nasib baik belum benar-benar luntur. Nasam tetap akan menekuni bengkel becak dengan tekad untuk tetap melestarikan becak agar bisa tetap mengaspal dijalanan yang sudah semakin mulus.

Nasam menyakini, kebanyakan tukang becak lebih memilih untuk merawat desain yang lama. Becak buatanya selalu sama dari puluhan tahun yang lalu.

“Akan sulit mengutak-atik becak yang lanjur berkarakter sebagai bagian dari budaya orang-orang Purbalingga.Kalau teman-teman yang belum punya becak, menyewa harian. Sehari setor Rp.3.000,”ungkap Nasam yang mempunyai 4 anak, 7 cucu dan 1 buyut ini.

Dalam mereparasi becak, Nasam tidak pernah membandrol harga yang tinggi, untuk penggantian laher roda dibandrol Rp.10.000, penggantian ban dalam Rp. 20.000, reparasi atap Rp. 100.000 dan pengecatan badan becak secara total hanya dibandrol Rp. 200.000.

Bagi Nasam, bengkel perakitan dan persewaan becak jadi bagian penting dari sejarah becak, tentang moda transportasi yang kini jadi milik dunia. Meskipun zaman kini telah berubah bagi becak, sepertinya akan selalu tersedia ruas-ruas di jalan untuk becak akan mangkal.

Di saat roda bisnis secara nyata mengubah wajah dan tatanan kehidupan kota, Nasam berharap bahwa kenangan becak tidak akan hilang dari ingatan orang-orang,

“Becak adalah cinta saya. Saya belajar bahwa kecintaan pada sesuatu sebetulnya menciptakan ikatan pikiran dan jiwa yang kuat dan bertahan dalam waktu yang lama. Seperti saya yang bergantung pada si roda tiga,”ungkapnya.

Mungkin memang benar di mata Nasam, kenangan itu tidak sehangat dulu lagi, di saat orang-orang memanggil “Becak!” untuk menuju ke sekolah, kantor dan kegiatan seharian mereka.

Akankah kelak naik becak tinggal kenangan, dan kita hanya mampu menikmati lembar-lembar sejarahnya. Namun kitapun perlu berharap, semoga becak tidak akan pernah hilang dari peradaban sampai kapanpun, dan akan mengulangi masa kejayaan kembali. Becak yang dulu lahir sebagai bahasa cinta kini lebih banyak diam. Menyaksikan manusia mengubah hidupnya perlahan-lahan.(mahendra yudhi krisnha)

 

 

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!