BBM Batal Naik, Kebijakan Jokowi Tidak Terarah

By: On: Dibaca: dibaca 115.78Rbx
BBM Batal Naik, Kebijakan Jokowi Tidak Terarah

 

Pengambilan keputusan penentuan harga bahan bakar minyak (BBM) dipertanyakan. Seharian kemarin (14/5) masyarakat dibuat bingung. Penyebabnya, Pertamina mengumumkan lewat surat edaran ke media dan seluruh pemilik SPBU bahwa harga BBM kembali naik mulai tengah malam tadi pukul 00.00 (15/5).

Namun, tanpa keterangan jelas, tiba-tiba rencana tersebut dibatalkan hanya 1,5 jam sebelum pelaksanaan.

Pembatalan itu disampaikan Pertamina melalui e-mail yang dikirimkan kepada para wartawan pukul 22.30, atau hanya 1,5 jam sebelum kenaikan harga dilaksanakan di seluruh SPBU di Indonesia. Dalam surat elektronik itu disebutkan bahwa tidak ada kenaikan harga BBM jenis apa pun pada 15 Mei. Pertamina juga menegaskan, pembatalan tersebut merupakan klarifikasi perusahaan atas kesimpangsiuran kabar yang beredar di masyarakat.

Saat dikonfirmasi soal pembatalan mendadak tersebut, VP Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro menjelaskan, hal itu dilakukan karena adanya informasi yang simpang siur mengenai harga biosolar. Dalam surat edaran tentang rencana kenaikan disebutkan bahwa harga biosolar naik menjadi Rp 9.200.

Nah, banyak yang mengira itu adalah harga solar bersubsidi yang saat ini dijual Rp 6.900. Padahal, yang dimaksud Pertamina bukan itu. “Supaya keterangan biosolar yang dimaksud dalam surat edaran bisa disampaikan secara lengkap dan tidak dianggap sebagai solar penugasan khusus,” ujarnya.

Sebelumnya, ada rencana kenaikan harga tiga bahan bakar minyak (BBM) mulai hari ini. Ketiga produk itu adalah pertamax, pertamax plus, dan pertamina dex dengan nominal kenaikan yang beragam. Sedangkan harga premium dan solar masih dijual dengan harga yang sama yakni Rp 7.400 dan Rp 6.900.

Kenaikan tertinggi dicatat oleh pertamax. Bensin dengan nilai oktan 92 itu naik Rp 800 dari Rp 8.800 menjadi Rp 9.600 tiap liternya. Sedangkan pertamax plus, dilepas Rp 10.500 dari sebelumnya Rp 10.050. Pertamina dex adalah produk dengan kenaikan terendah, dari Rp 11.900 menjadi Rp 12.200.

Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang mengatakan, kenaikan sudah saatnya dilakukan. Sebab, pergerakan harga minyak dunia kembali merangkak naik. “MoPS (means of platts Singapore) yang menjadi patokan naik tinggi. Begitu juga dengan dollar yang di atas Rp 13 ribu,” ujarnya.

Kenaikan itu membuat disparitas harga antara premium dengan pertamax makin lebar. Yakni, Rp 2.200 dari premium yang kini dijual Rp 7.400 per liter. Angka itu, menurut direktur yang akrab disapa Abe itu tidak ideal dan membuat pengguna rentan kembali ke premium.

Padahal, Pertamina menjaga perbedaan harga itu agar tidak lebih dari seribuan rupiah. Sebelumnya, ketika perbedaan harga premium dan pertamax masih tipis, pengguna pertamax meningkat drastis. Dari yang sebelumnya hanya 2 ribu kilo liter (kl) per hari, belakangan sempat 6-7 ribu kl.

“Premium mestinya harus naik. Tapi belum mendapat izin pemerintah,” imbuhnya. Dia memang tidak menjelaskan apakah kenaikan tiga produk itu menjadi indikator naiknya harga premium Juni nanti. Kalau melihat kebiasaan sebelumnya, besar kemungkinan harga premium akan mendapat penyesuaian.

Itulah kenapa, meski pro dan kontra belum surut, Pertamina butuh pertalite. Bahan bakar baru dengan nilai oktan 90 itu dipatok menjadi “penjaga” konsumen di situasi seperti ini. Supaya pengguna pertamax tidak lari ke premium tetapi tetap menggunakan bensin dengan oktan tinggi.

VP Fuel Marketing and Distribution Pertamina Suhartoko menambahkan, untuk harga premium dan solar tidak mengalami perubahan. Sebab, kedua harga itu tidak berada dalam kewenangan Pertamina meski premium sudah tidak lagi disubsidi. “Tidak ada kenaikan, dan itu ditetapkan pemerintah,” jelasnya.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Wiratmaja Puja membenarkan soal harga minyak dunia yang terus naik itu. Kondisi diperburuk dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Potensi harga premium untuk mendapat penyesuaian disebutnya masih terbuka lebar.

“Kami akan cermati. Kalau harus naik, kapan harus cermat. Tapi bukan berarti hari ini, atau bulan ini,” jelasnya. Sesuai dengan rekomendasi Komisi VII DPR, dilakukan evaluasi yang berjangka.

Terkait dengan pertalite yang menjadi penjaga gawang Pertamina agar tidak merugi, Wirat menyampaikan dukungannya. Tetapi, memang belum bisa dijual pada bulan ini karena masih dilakukan uji coba dan pengurusan izin. Untuk saat ini, dia menyebut proses sudah selesai dan sedang direview.

“Pertalite masih cukup lama, semoga hasil review tidak ada yang aneh-aneh,” terangnya. Setelah hasilnya keluar, Pertamina bisa membawanya ke DPR untuk mendapat izin. Saat ditanya soal harga ideal, Wirat menyebutnya sebagai corporate action Pertamina. Jadi, diserahkan sepenuhnya pada BUMN energi itu.

Terpisah, Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan, pembubaran Petral diharapkan tidak membuat Pertamina kapok untuk membentuk perpanjangan tangan di pasar global. Meski saat ini memastikan tidak ada perusahaan pengganti, Pertamina disebutnya bisa membentuk anak usaha baru jika diperlukan. Tentu saja, setelah proses likuidasi selesai.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pertamina diberi waktu sampai April 2016 untuk membereskan proses likuidasi. Termasuk, menyelesaikan audit forensik untuk mengetahui ada tidaknya pelanggaran hukum yang dilakukan oknum pegawai Petral.

“Pertamina butuh trading arm, dimana-mana juga begitu. Tapi (pembubaran Petral) ini bukan usaha untuk mengelabui masyarakat,” tegasnya.
Maksud dari omongan Sudirman adalah, tudingan Petral dibubarkan supaya ada mafia baru yang masuk. Untuk sementara ini, seluruh kegiatan Petral mutlak digantikan oleh ISC.

Keseriusan pemerintah dalam memberangus praktik mafia migas ditunjukkan dengan berbagai instruksi pada pertamina. Mantan bos PT Pindad itu juga meminta agar Pertamina membersihkan ISC. Jangan sampai ada kaki tangan Petral atau mafia baru yang siap menggerogoti bisnis emas hitam.

VP Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro memastikan Petral sudah tidak beroperasi lagi. Rencana Petral untuk kembali mengikuti tender minyak sudah tidak bisa dilakukan karena dilikuidasi. Namun, khusus pengadaan impor minyak dari Angola yang dilakukan Petral Energy Service (PES) tidak terpengaruh pembubaran.

PES telah menjalin kerja sama dengan Sonangol EP sejak 2014. Perjanjian yang terjalin untuk proyek pengadaan impor sebesar 950 ribu barel per bulan. Proses impor sendiri sudah berjalan selama 5 bulan sejak Januari. “Kontrak existing terus berjalan. Tapi tidak boleh buat baru,” terangnya.

Kontrak impor sendiri dipastikan habis pada bulan Juni. Selanjutnya, akan kerja sama dengan Sonangol akan dilanjutkan oleh ISC. Dia memastikan impor tidak ada masalah karena proses yang sudah berjalan sejak Januari sebenarnya dilakukan ISC.

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!