by

Bank Indonesia Beri Peringatan Waspada Upal

-Bisnis, hukum, Update-dibaca 6.74Rb kali | Dibagikan 21 Kali

Bank Indonesia (BI) mencermati momen politik (pemilu) dan atau saat jelang Lebaran merupakan ajang peredaran uang palsu (upal) di masyarakat.

“Kami mencermati terjadi pola yang terus berulang pada momen tertentu, termasuk pemilu. Hasil temuan kami berupa upal pecahan 50.000 ribu dan 100.000 ribu,” kata Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto, Lukman Hakim, usai kegiatan sosialisasi kebanksentralan, dan sistem Pembayatran Tunai/non Tunai

Sosialisasi itu diikuti perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) termasuk camat se Purbalingga. Dalam kegiatan itu dipaparkan juga cara mendeteksi keaslian uang rupiah. Untuk menekan peredaran uang palsu, BI mendorong masyarakat untuk menggunakan sarana pembayaran non tunai. Cara itu lebih aman dan efisien.

“Oleh karenannya kita sudah canangkan gerakan nasional non tunai, kita juga mencanangkan GPN, Gerbang Pembayaran Non Tunai, dengan ini kita kan menghemat devisa dan kestabilan nilai rupiah dan mengalihkan pengeluaran untuk pembangunan yang lain,” katanya.

Sementara itu Plt Bupati Purbalingga yang diwakili oleh Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Drs Widiono MSi menyampaikan beredarnya uang rupiah palsu pasti secara langsung merugikan masyarakat. Terlebih sebentar lagi kita akan menghadapi bulan Ramadan dan hari besar Idulfitri  dimana peredaran uang di daerah meningkat cukup signifikan dan tentunya rawan terjadi peredaran uang palsu.

“Padahal dengan cara sederhana kita dapat dengan mudah mengetahui keaslian uang rupiah, yakni dengan 3 d (dilihat, diraba, diterawang) dan menggunakan sinar ultraviolet. Namun kenyataan di lapangan masih sering kita dengar dan kita jumpai adanya orang yang tertipu atau mendapatkan uang rupiah palsu,” kata dia.

 

Comment

Berita Lainnya