BANGUNAN KUNO BELUM TENTU CAGAR BUDAYA

By: On: Dibaca: 115,765x
BANGUNAN KUNO BELUM TENTU CAGAR BUDAYA

situs kedungbenda1

PURBALINGGA – Balai Arkeologi Yogyakarta, dua hari yang lalu (7 – 8/11) memberi pembekalan materi terhadap anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) yang telah ditetapkan. Siswanto, selaku Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta berpesan tidak semua bangunan tua/kuno bisa ditetapkan sebagai cagar budaya oleh TACB.

Ia menuturkan, kriteria benda/bangunan/situs cagar budaya sudah ditentukan spesifik dalam UU No 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Salah satu kriteria yang harus terpenuhi adalah benda/bangunan/situs tersebut memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan atau kebudayaan.

“Bisa jadi sebuah rumah nampaknya jelek, namun setelah digali dari sejarah ternyata memiliki arti penting maka itu bisa dijadikan cagar budaya. Begitu juga sebaliknya ada bangunan kuno yang bagus, namun tidak mengandung keunikan, arti khusus sehingga tidak perlu dijadikan cagar budaya,” kata Siswanto, kemarin (8/11).

Tugas TACB yang terdiri dari personil berbagai bidang keahlian ini kedepan akan dijadikan pengkaji sekaligus penyeleksi bangunan/benda/situs untuk direkomendasikan dan ditetapkan cagar budaya oleh bupati. Sementara itu, ia juga menyarankan kepada pemerintah  daerah agar bisa memberi reward bagi pemilik cagar budaya tersebut.

“Kami harap Pemerintah Daerah, melalui Perda nanti bisa memberi reward kepada pemilik cagar budaya misalnya keringanan pajak, serifikat atau bantuan revitalisasi. Itu agar ada ikatan batin dari pemilik untuk juga ikut melestarikannya,” paparnya.

Selain pembekalan secara teori, pihaknya juga bersama Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga mengajak TACB untuk mengunjungi langsung bangunan dan situs yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Diantaranya berkunjung dan mengecek keutuhan bangunan depan SMP Negeri 1 Purbalingga yang diduga dibangun sejak masa Hindia Belanda sebagai sekolah tertua di Purbalingga.

Selain itu, mereka juga mengunjungi Pendopo KH Ahmad Dahlan yang terletak di halaman belakang SMA Muhammadiyah Purbalingga. Bangunan bergaya Eropa tersebut masih terawat dan terjaga keasliannya meski telah dilakukan peremajaan. Setelah itu, Pendopo Dipokusumo, rumah dinas Bupati dan kantor Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) juga menjadi sasaran kunjungan.

Sementara itu kunjungan terakhir ditujukan ke Situs Kedungbenda Desa Kedungbenda Kecamatan Kemangkon. Situs tersebut terdapat peninggalan zaman Indonesia Kuno (Hindu) diantaranya sebuah Yoni, dua buah Lingga, batu lumpang dan satu benda peninggalan Prasejarah, yakni Phallus.

Siswanto menyarankan agar pihak dinas bisa menata kembali situs tersebut agar lebih rapi. “Lingga yang terpisah bisa diletakan diatas Yoni. Bisa juga dilakukan ekskavasi, karena kondisi Yoni yang nampak baru setengah badan, dimungkinkan Yoni ini masih ada sekitar 50 sentimeter yang belum terlihat,” ungkapnya

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!