Menu
Media Online Terpercaya

ASN di Purbalingga Luncurkan Rumah Pancasila

  • Share

Pancasila merupakan ideologi dan dasar Negara yang sempurna untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, nilai-nilai Pancasila mulai tergerus dalam praktik kehidupan sosial kemasyarakatan sehari-hari. Padahal, Pancasila adalah roh bangsa yang masih dibutuhkan untuk menghadapi tantangan dan kebutuhan bangsa saat ini.

Hal ini yang melatarbelakangi dengan perbincangan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Purbalingga meluncurkan “Rumah Pancasila”, di Kedai Kebun, Minggu (24 Maret 2019). Dalam acara tersebut juga dilakukan deklarasi setia kepada pemerintah yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

“Pancasila harus menjadi ideologi akhir karena perekat dari segala bentuk bangsa. Ini berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan negara dan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara harus menyangkut moral etis Pancasila, ”ungkap Setiyadi yang juga Inspektur Inspektorat Kabupaten Purbalingga

Setiyadi menambahkan, dalam Panca Prasetya Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri), tertulis setia dan taat kepada Negara Kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

“Itu berarti, sudah sangat jelas sebagai ASN, kita harus setia dan taat kepada Negara Kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,” tegasnya.
Lebih lanjut tentang Setiyadi, Rumah Pancasila akan mencari tempat diskusi semua elemen masyarakat, tidak hanya untuk ASN yang terlibat, namun terbuka untuk semua lapisan masyarakat.

”Targetnya, kehidupan berbangsa akan lebih kokoh dan sejahtera dengan terkuat dan dikelola Pancasila sebagai dasar ideologi bangsa,” ungkapnya.

Salah satu peserta, Amron Dikri, Korwilcam Rembang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menyambut baik berdirinya Rumah Pancasila. Diungkapkan, pada presentasi Sekolah Dasar harus lebih memprioritaskan pada praktik-praktik nilai-nilai Pancasila. Bukan pada hapalan yang nyata, lebih pada praktik nyata di kehidupan sehari-hari. Bagaimana mereka mempraktikkan nilai-nilai ketuhanan, kebebasan, persatuan, demokrasi, dan keadilan dalam interaksi keseharian mereka di sekolah, keluarga, serta masyarakat yang memahami yang utama.

“Ini jelas bukan soal menghapalkan tentang sila Pancasila, dan membacakannya secara lengkap. Mencintai Pancasila berarti mengundang mereka menghayati pertemuan sila tersebut lalu mengaplikasikannya dalam kehidupan. Menjaga Pancasila berarti mempraktikan sila-sila tersebut dalam tingkah laku keseharian, ”ungkapnya.

Hal senada disetujui Sriyono, Korwilcam Purbalingga Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam kurikulum 2013 (K13), mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang memiliki misi mengembangkan serta menegakkan ke Pancasila kepada semua peserta didik. Harapannya, mampu membudayakan dan memberdayakan peserta didik agar menjadi warganegara yang amanah, jujur, cerdas, dan bertanggung jawab.

“Dalam K13 tertuang dalam karakter kompetensi inti, yaitu religius, nasionalis, integritas, mandiri dan gotong royong. Nah, dalam karakternya yang mulia, berbudi pekerti luhur dan santun santun, ”ungkapnya

Sriono menambahkan, yang menjadi catatan kita adalah tentang Pancasila yang diperlukan di dalam ruang kelas dengan baik dan mudah dimengerti. Bagaimana meningkatkan kompetensi Guru sebagai ujung tombak dalam mentransfer nilai-nilai Pancasila. Memperkaya strategi, metode, dan model pembelajaran agar Pancasila menjadi pelajaran yang menyenangkan dan menantang. Dan tak kalah pentingnya, menghadirkan contoh teladan perilaku Pancasilais dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Saya bisa mengatakan, konten dalam struktur K13 di jenjang pendidikan dasar dan menengah, Pancasila sudah menjadi mata pelajaran. Sudah termuat jelas dan terukur dalam kurikulum pendidikan nasional kita, ”ungkapnya (yoga tri cahyono)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *