Ashari Kimiawan, Maestro Kopi dari Dusun Jambenom

By: On: Dibaca: dibaca 139.67Rbx
Ashari Kimiawan, Maestro Kopi dari Dusun Jambenom


Keadaan fisiknya tidak memutus semangat Ashari untuk berkarya. Paling tidak, dua klausa “cacat badan karena takdir, cacat jiwa karena tidak berpikir” ia gemati betul-betul selama ini. Jangan salah sangka, kita tidak perlu merasa melas dengan kondisinya. Otaknya adalah gudang ilmu segala hal tentang kopi. Kamu bisa bertanya tentang filosofi kopi beserta akar sejarah kopi di indonesia hingga partikel solut (terlarut) yang terkandung dalam sebutir biji kopi sangrai.

Ashari, alumnus Hotel School Surabaya ini sudah malang melintang di dunia barista. Bahkan, sebelum film “Filosofi Kopi” membuat trand kopi merasuk hingga pelosok desa, ia sudah berkenalan dengan mesin-mesin pengolahan kopi dan kebun kopi tinggalan era kolonial. “Tepatnya tahun 2009 Saya menjabat manajer wilayah Rolas Cafe Surabaya anak perusahaan PT Perkebunan Nusantara 12,” ucapnya.

Karena pekerjaannya yang bergelut dengan kopi, dengan sombongnya Ashari mengikuti kompetisi barista paling bergengsi di Indonesia, yakni Indonesia Barista Championship (IBC) 2011. Hasilnya? Begitu naik panggung ia blank, tidak tahu harus melakukan apa. “Disitu saya merasa sangat bodoh, ditanya juri saya jawab, tidak tau mau apa. Turun panggung saya ditertawakan semua pengunjung,” terangnya.

Titik balik itulah yang membuatnya belajar dengan sungguh-sungguh. Segala sumber yang ia jumpai, meskipun berbahasa asing, ia lahap habis. Dua tahun kemudian, 2013, ia diundang oleh Specialty Coffe Association of Indonesia (SCAI) untuk menjadi juri lomba IBC Surabaya yang pernah ia merasa sangat malu di dalamnya.

Bukan tanpa sebab ia diundang sebagai juri. Tahun 2012 melihat perkembangan trend kopi di Surabaya ia merasa prihatin. “Kelemahan barista di sini karena kurangnya pengetahuan tentang kopi itu sendiri,” terangnya.

Karena hal tersebut, ia membuat gerakan kopikalitas di Surabaya. Gerakan untuk mengumpulkan barista dan saling berbagi pengetahuan tentang kopi. Pada tahun tersebut pula ia menyelenggarakan event Mahakarya Sampoerna salah satu acaranya nyete (Melukis dengan ampas kopi).

“Pada saat itu, pengetahuan tentang apa itu kopi, bagaimana memproses bahan bakunya, roastingnya, brewingnya, dan penyajiannya bernilai mahal. Ada salah satu penyelenggara yang mematok Rp 500 sampai Rp 2 juta untuk masing-masing sesi pelatihan. Tahun-tahun itu industri kopi bersifat eksklusif, untuk mudah mengumpulkan para barista ya dengan mengadakan event” jelasnya.

Berbagi pengetahuan dengan Ashari juga berbayar. Seharga Rp 15 ribu – Rp 20 ribu, yakni harga segelas kopi yang ia buat sambil menjelaskan segala sesuatu yang ditanyakan. “Karena tak mematok harga itu saya pernah ditegur sesama pembicara dalam seminar kopi. Sejak saat itu, saya lebih suka one man show, lebih baik sendirian atau bergerilya bila ada yang mau belajar tentang kopi. Biar tidak mengganggu pembicara yang lain,” jelasnya.

Tahun-Tahun Krusial

Tanpa tahu apa sebabnya, Ashari merasa dada hingga ujung kakinya mati rasa. Setelah diperiksa di rumah sakit, ternyata ia menderita Transverse Mielitis atau peradangan pada tulang belakang. Karena itu, ia berhenti total dari seluruh kegiatan dan pulang ke rumahnya di Dusun Jambenom Desa Karangcengis Kabupaten Purbalingga.

“Saat itu tidak bisa melakukan apa-apa. Hampir selama dua tahun hanya tidur di ranjang,” ucapnya lirih.

Terlebih, pasca satu tahun ia sakit, istrinya memutuskan untuk berpisah. “Sempat ada rencana rujuk, tetapi gagal dilaksanakan,” imbuhnya.

Masa suramnya bertambah ketika komunikasi dengan putra satu-satunya terputus. “Sampai sekarang masih tidak bisa berkomunikasi dengannya. Tapi, ya sudah, saya terima dengan lapang dada,” katanya dengan wajah datar.

Kopi, Pemantik Untuk Bangkit

Setahun lebih Ashari bermuram diri, ia ratapi kemalangan yang menimpanya berkali-kali. Sampai ia mendapat banyak suport dari teman-temannya. “Banyak yang bertanya tentang kopi saat saya sakit. Bahkan ada yang jauh-jauh datang ke rumah untuk belajar,” katanya.

Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis catatan di facebook dan membagikan pengetahuannya tentang kopi lewat tulisan. Sampai sekarang pun Ashari masih aktif di media sosial. Ke depan ia berencana membukukan tulisannya tersebut.

Sampai akhirnya, bulan Februari 2017 ia memutuskan untuk membuka warung kopi di Jalan Veteran No. 5, Purbalingga Lor, Kecamatan Purbalingga. Bersama adiknya, Ashari Ginanjar Ardi, mereka meladeni penikmat kopi di Purbalingga dengan penuh andap ashor.

Tidak hanya berbagi pengetahuan dengan komunitas-komunitas seperti di Bumiayu Fun V60 Battle 2017. Ashari juga pernah memberi materi pada Bimbingan Teknologi Peningkatan Kualitas Kopi 2017 Kantor Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah Jawa Tengah Purwokerto.

Selain itu, Dia bangun kembali gerakan Kopikalitas di Purbalingga. Ia gandeng industri-industri kecil warung kopi dan petani-petani di Purbalingga untuk berbagi ilmu. “Saya harap pelaku industri kopi di Purbalingga konsisten dan selalu meningkatkan kualitas SDM maupun kualitas kopi mulai dari petani, pengolahan pasca panen, roastery (rumah sangrai), pengepakan dan pendistribusian, sampai proses penyajian. Sehingga branding kopi lokal harum namanya di masyarakat luas,” harapnya.

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!