by

Api Abadi Mrapen Padam. Pertanda Apa?

-Peristiwa, Update-dibaca 10.69Rb kali | Dibagikan 33 Kali

Api abadi Mrapen di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, padam total sejak 25 September 2020. Pengambilan api abadi Mrapen ini menjadi satu ritual yang biasa dilakukan dari zaman Mataram kuno tidak sampai terputus. Api biru yang berkobar melalui lubang pipa di titik sumber api tersebut perlahan mengecil hingga akhirnya padam.

Tahun 1990-an, api abadi Mrapen pernah meredup tapi tidak padam total tetapi debit gasnya mulai berkurang sehingga apinya mulai mengecil karena gas alam ketika ada retakan yang lebih besar biasanya akan bergeser.

Ada kemungkinan penyebabnya terkait pengeboran yang ada di lahan milik minimarket di dekat lokasi. Kedua, kemungkinan adanya retakan dalam tanah sehingga pasokan gas tertutup. Terdapat pengeboran yang berjarak sekitar 150 meter dari lokasi kejadian. Saat awal pengeboran, muncul api dan semburan gas. Karenadiduga  penyebab padamnya api abadi karena hal tersebut.

Selain itu, pengeboran yang awalnya untuk mencari sumber air tersebut dilakukan tidak sesuai ketentuan. Seharusnya, penggalian tidak lebih dari 30 meter, namun itu dilakukan di atas angka tersebut.

Padamnya Situs Api Abadi tersebut diduga tidak terlepas dari adanya pengeboran sumur yang lokasinya tidak jauh dari situs pada 12 September 2020 yang memunculkan semburan gas. Kemudian, pada 20 September 2020 debit gas pada Situs Api Abadi menurun dan apinya mengecil dan baru padam pada tanggal 25 September 2020.

Berdasarkan keterangan warga sekitar pengeboran sumur tersebut, kedalamannya ada yang menyebutkan di atas 30-an meter dan 70-an meter. Kemungkinan memang kedalamannya lebih dari 30 meter karena semburan gasnya cukup besar dan kadungan gas methanenya juga cukup tinggi karena dari hasil pengecekan dengan alat memang lebih dari 100 ppm

“Kami tengah berupaya mencari langkah-langkah yang tepat agar situsnya tetap terjaga karena selama ini tempat tersebut juga menjadi ritual tahunan umat Buddha pada upacara Hari Raya Waisak,” kata Kasi Energi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Wilayah Kendeng Selatan Sinung Sugeng Arianto di Grobogan

Penjabat Sementara (Pjs) Bupati Grobogan, Haerudin, menuturkan berdasarkan kajian Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, ada sejumlah asumsi yang muncul terkait berhentinya suplai gas di sumber api legendaris tersebut.

“Berdasarkan cerita, dulu pernah redup dan kualitas nyalanya berkurang. Lalu dilakukan pengeboran dan penyambungan menggunakan pipa,” terang Haerudin yang juga Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jateng.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, di lokasi sekitar dipasang garis polisi karena tersulut api sedikit bisa meledak. Informasinya, kata dia, warga setempat ketika di pagi hari ada yang mual-mual karena mencium bau gas tersebut.

Situs Api Abadi Mrapen selain menjadi tempat upacara pegambilan api suci umat Buddha, juga pernah digunakan untuk menyalakan obor Pekan Olahraga Nasional (PON), POR PWI, Hari Olahraga Nasional (Haornas) hingga Pesta Olahraga Negara-Negara Berkembang atau Games of the New Emerging Forces (GANEFO).

 

 

Comment

Berita Lainnya