Angkat Arkeo-Park Prasasti Cipaku, Rais Juarai Lomba KTI Cagar Budaya Purbalingga

By: On: Dibaca: 9,526x
Angkat Arkeo-Park Prasasti Cipaku, Rais Juarai Lomba KTI Cagar Budaya Purbalingga

Objek bersejarah Prasasti atau Batu Tulis Cipaku, Kecamatan Mrebet menjadi pembahasan menarik Rais Trisyambudi dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Purbalingga, Kamis (15/3). Siswa SMA Muhammadiyah 1 Purbalingga itu mendapat Juara I, dari karyanya yang berjudul Optimalisasi Batu Tulis Cipaku Sebagai Potensi Objek Wisata Cagar Budaya di Kabupaten Purbalingga.

“Saya cukup optimis, kawasan prasasti sudah memiliki infrastruktur yang baik, area parkir yang luas, terdapat aneka benda bersejarah lainnya, ditunjang dengan pemandang yang asri sudah sangat cocok sebagai destinasi wisata cagar budaya yang edukatif,” kata Rais dalam presentasinya di Aula Ki Hajar Dewantara Dindikbud Purbalingga itu.

Lokasi prasasti yang juga termasuk dalam kawasan Museum Lokastithi Giribadra ini cukup menarik bagi catatan sejarah Indonesia khususnya periode zaman Klasik (Hindu-Budha). Berdasarkan riwayatnya, prasasti ini pernah diteliti dan dialihaksarakan oleh arkeolog dari UGM, UI bahkan sempat dikonsultasikan langsung ke epigraf dari India.

Prasasti yang terbaca Indrawardhana Wikramadeva ini belum bisa menginformasikan banyak hal. Peserta lomba yang lain, Raka Tegas Lingga Adi Putra dari MAN 1 Purbalingga yang juga mengangkat tema KTI yang sama mengungkapkan Prasasti Cipaku ini berkaitan erat dengan tanda kejayaan Kerajaan Mataram Kuno.

“Asumsi saya adalah penggunaan hurufnya adalah Jawa Kawi yang umumnya digunakan pada masa Kerajaan Mataram Kuno (Abad 8 -10 Masehi). Kemudian kata ‘Indra’ dalam prasasti tersebut menunjuk pada nama raja Dharanindra dimana saat itu kerajaan ini memiliki wilayah kekuasaan hingga Semenanjung Malaya dan Indocina (Vietnam,red). Prasasti ini ditulis sebagai tetenger atas kekuasaannya,” katanya.

Juri lomba yang juga Wakil Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Purbalingga, Adi Purwanto SS MSi membenarkan bahwa kawasan Prasasti Cipaku termasuk Museum Lokastithi Giribadra memang memiliki daya tarik tersendiri. “Kawasan ini rencananya akan kami rancang sebagai Arkeo-Park yakni realisasi dari Arkeopreneurship atau mengembangkan kawasan yang kental bernuansa arkeologis sebagai dunia usaha masyarakat,” kata pria yang juga menjabat sebagai Kepala Seksi Pengembangan Kewirausahaan Dinas Koperasi dan UMKM Purbalingga ini.

Lebih lanjut ia menjelaskan, arkeopreneurship yang relevan direalisasikan diantaranya adalah usaha kuliner dengan gubug-gubug lesehan di kawasan museum. Selain itu juga pemanfaatan retribusi parkir sebagai sumber pendapatan masyarakat.

“Modal yang dibutuhkan hanya berkisar Rp 10 juta. Area museum itu merupakan aset perseorangan, kelebihannya ketika digarap nanti, usaha mereka biasanya lebih eksis, lebih mandiri karena punya rasa memiliki yang kuat dibanding jika dikelola organisasi pemuda atau pemdes, saya berkaca pada keberhasilan di Sanggar Darimu, Bokol,” katanya.

Lomba KTI tentang Cagar Budaya ini merupakan bagian dari penjaringan Lomba KTI di Tingkat Provinsi Jawa Tengah. Selain Rais Trisyambudi, ada beberapa pelajar lain yang berhasil menjuarai lomba di tingkat kabupaten ini. Diantaranya Juara II diraih Gina Sonia dari SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga, yang menyoroti bangunan rumah dinas Bupati Purbalingga. Juara III diraih Ading Angga Prasetiyo dari SMAN 1 Purbalingga yang menyoroti Pendopo KH Ahmad Dahlan.

Juara Harapan I diraih Raka Tegas Lingga Adi Putra dari MAN 1 Purbalingga yang menyoroti Prasasti Cipaku dalam konteks sejarah. Juara Harapan II diraih Yuli Indah P dari SMAN 1 Kejobong, mengangkat sisa-sisa bangunan Stasiun Banjarnegara. Sedangkan Juara Harapan III diraih Nina Dwi R dari SMA Santo Agustinus yang menyoroti bangunan kolonial Santo Agustinus itu sendiri.

Kasi Cagar Budaya dan Permuseuman Dindikbud Purbalingga, Rien Anggraeni Setya SPd menuturkan keenam juara di atas akan maju lomba ke tingkat provinsi, tentunya akan melalui tahap penyaringan naskah terlebih dulu oleh juri tingkat provinsi. “Jika lolos lagi, mereka akan mengikuti penilaian tahap terakhir di Kota Surakarta tanggal 24-26 April nanti,” katanya.

Mereka yang juara di provinsi dalam penilaian tahap terakhir akan mendapatkan trofi, piagam dan uang pembinaan. Untuk Juara I akan mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp 5000.000, Juara II Rp 4000.000, Juara III Rp 3000.000, Juara Harapan I Rp 2000.000, Juara Harapan II Rp 1500.000, Juara Harapan III Rp 1000.000 serta Juara Atribut 4 orang masing-maing Rp 1000.000. (Ganda Kurniawan)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!