ALSA LC Unsoed Purwokerto Gelar Legal Coaching Clinic 2017

By: On: Dibaca: dibaca 9.61Rbx
ALSA LC Unsoed Purwokerto Gelar Legal Coaching Clinic 2017

 

Asian Law Student’s Association (ALSA) local chapter Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto akan menggelar Legal Coaching Clinic yang menjadi rangkaian program ALSA Care tahun 2017 yang bertemakan “Care for diffabilities”, Sabtu (9 Desember 2017), di Purbalingga.

Dalam pelaksanaan program legal coaching clinic,  ALSA local chapter Unsoed Purwokerto akan menggandeng Yayasan Pilar Purbalingga. Program ini bertujuan agar para difabel mengetahui hak-haknya sebagai warga Negara

Ketua Pelaksana, Angga Zulfikar menuturkan, dalam penyelenggaraan legal coaching clinic, ALSA LC Unsoed mengajak para difabel untuk menyadari hak-haknya sebagai warga Negara sebagaimana tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang memuat pengaturan mengenai berbagai hak difabel menjadi bahan diskusi pokok dalam kegiatan tersebut.

“Program ini disasarkan untuk menambah wawasan, karena selama ini para difabel masih banyak yang tidak sadar bahwa dirinya memiliki hak yang sama seperti warga negara yang lain,”tuturnya dalam pesan kegiatan yang disampaikan kepada cyber media lintas24.com dan Tabloid Elemen.

Angga Zulfikar menjabarkan, program ini dilaksanakan untuk mewujudkan dua pilar ALSA yaitu socially responsible dan legally skilled yang dapat dilakukan dalam bentuk satu rangkaian acara. Didalam nya terdapat sosialisasi atau kampanye aksi sebagai cerminan dari socially responsible dan penyuluhan hukum, seminar, workshop sebagai cerminan dari legally skilled.

“Teman-teman kita para difabel harus memiliki pengetahuan hukum, agar ketika ia ingin melakukan suatu hal, teman-teman kita tidak merasa takut karena haknya berbeda dari orang lain,”katanya.

Ia menambahkan, selain menjadi forum untuk mensosialisasikan undang-undang No. 8 tahun 2016, legal coaching clinic ini harus dapat meningkatkan kapasitas para difabel, karena kegiatan itu di sajikan dengan cara diskusi dan presentasi yang dapat membuat para peserta terbiasa dengan iklim diskusi dan presentasi.

“Selama ini memang banyak difabel yang tidak menyadari bahwa dirinya memiliki hak yang sama seperti orang lain yang non difabel,”tegasnya.

Director ALSA LC Unsoed, Iddo Andua Ramadhan menambahkan, ALSA merupakan organisasi mahasiswa hukum dari berbagai sekolah hukum dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina yang dibentuk tahun 1989 di Jakarta. Namun, pada ALSA conference di Bangkok Oktober 2003, ALSA telah berekstansi dengan melakukan merger dengan EAST dibawah satu nama baru yaitu Asian Law Student’s Association (tetap dengan singkatan ALSA). Dan anggota ALSA kini bertambah dari Jepang, Korea, Cina, Taiwan, dan Hongkong.

“Program-program dari terbentuknya organisasi yang baru ini semakin menarik yaitu dengan adanya program internship yang membuka kesempatan bagi kita untuk mengalami dan mengetahui secara langsung mengenai sistem hukum negara lain,”jelasnya.

Ketua Yayasan Pilar Purbalingga, Sri Wahyuni mengakui bangga atas kepedulian para mahasiswa Fakultas Hukum Unsoed Purwokerto. Pasalnya, sesuai UU no 8 Tahun 2016, setiap lembaga pemerintah harus mempekerjakan 2 persen pegawai penyandang disabilitas dan setiap lembaga swasta harus mempekerjakan 1 persen pegawai penyandang disabilitas.

“Namun kenyataannya, banyak instansi pemerintah dan lembaga swasta belum mentaati perintah undang-undang tersebut,”ungkapnya.

Yuni menambahkan, Namun, faktanya, keberadaan difabel masih mengalami ketidakadilan di hampir semua bentuk layanan hak dasar. Hak dasar tersebut antara lain hak atas kesehatan, hak atas identitas, hak atas pendidikan, hak untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, hak atas akses fasilitas pembangunaan dan infrastruktur.

“Perlakuan diskriminatif serta pandangan stigma negatif yang masih sangat kuat di masyarakat semakin memperburuk komunitas difabel,” ungkap Yuni.(yoga tri cahyono)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!