15 Oktober 1945, Pertempuran 5 Hari di Semarang

By: On: Dibaca: 65,087x
15 Oktober 1945, Pertempuran 5 Hari di Semarang

 

Berita Proklamasi 17 Agustus 1945 yang telah dikumandangkan di Jakarta, akhirnya terdengar juga sampai kora Semarang. Sebagaimana telah terjadi pelucutan senjata tentara Jepang di beberapa kota di Indonesia.

Pemuda Semarang pun mengikuti langkah yang sama dengan melakukan pelucutan senjata tentara Jepang yang dipimpin Mayor Kido yang kala itu bermarkas di Jatingaleh.

Padat anggal 13 Oktober 1945, suasana semakin mencekam dan tentara Jepang pun merasa semakin terdesak. Pada tanggal 14 Oktober 1945 Mayor Kido melakukan tendakan yang nekat, dengan menolak secara tegas penyerahan senjata.

Tindakan yang dilakukan Mayor Kido ini ternyata menyulut amarah Pemuda Semarang, mereka pun langsung bergerak menjadikan aula rumah sakit Purusara sebagai markas pejuang, ternyata pergerakan pemuda Semarang mendapat sambutan dari para pemuda yang ada di rumah sakit tersebut. Para pemuda saling bahu-membahu menghadapi tentara Jepang dengan menggunakan taktik perang gerilya.

Pada tanggal 14 Oktober 1945 tepatnya jam 06.30 WIB, Para pemuda rumah sakit mendapat intruksi guna mencegat semua kendaraan Tentara Jepang yang melewati area Rumah Sakit Purusara.

Pemuda berhasil menyita Mobil milik Kompetai dan melucuti senjata. Pada sore harinya, tanpa mengenal lelah para pemuda pun aktif mencari tentara Jepang dan menjeblokan mereka ke Penjara Bulu.

Tentara Jepangpun melakukan serangan balasan secara mendadak dan melucuti delapan anggota Polisi Istimewa yang waktu itu menjaga sumber air minum warga semarang “reservoir Siranda”.

Tentara Jepang menangkap kedelapan anggota Polisi Istimewa dan melakukan penyiksaan dengan membawanya ke Markas Kido Butai di Jatingaleh. Pada waktu yang sama tersiar kabar tentara jepang telah menebar racun di Sumber air “Reservoir Siranda”.

Selepas Maghrib, Dr Kariadi mendapat telepon dari Pimpinan RS. Purusara yang memerintahkan agar beliau memeriksa Reservoir Siranda. Karena sudah tersiar kabar sumber air tersebut diracuni Tentara Jepang.

Dr. Kariadi pun bergegas pergi menuju ke sumber air minum warga Semarang tersebut, tanpai menghiraukan keselamatannya, karena pada waktu yang sama tentara Jepang gencar melakukan serangan dibeberapa tempat di Semarang dan salah satunya tempat menuju Reservoir yang akan di teliti Dr Kariadi.

Isteri Dr. Kariadi yang bernama drg. Sunarti mencoba menahan beliau karena keadaan yang sedang genting diluar. Akan tetapi Dr. Kariadi bertekat bulat guna memeriksa Reservoir Siranda, karena menyangkut nyawa banyak orang. Mendengar alasan ini drg Sunarti tidak bisa berbuat apa-apa.

Akhirnya Dr. Kariadi berangkat menuju Reservoir Siranda guna memastikan berita bahwa tentara Jepang telah merauni sumber air minum tersebut, belum sampai di lokasi, tepatnya di jalan Pandanaran, mobil yang ditumpangi Dr. Kariadi dihadang tentara Jepang, dan ditembaki oleh Jepang, walau sempat dibawa ke rumah sakit, nyawa Dr. Kariadi tidak tertolong, karena lukanya yang terlalu parah.

Kejadian kematian Dr. Kariadi yang dibunuh tentara jepang inilah yang menjadi penyulut amarah Pemuda Semarang.

Pada tanggal 15 Oktober 2045 sekitar pukul 03.00 WIB, Mayor Kido memerintahkan 1.000 tentara Jepang untuk melakukan penyerangan ke Pusat Kota Semarang. Sementara itu berita Gugurnya Dr. Kariadi yang beredar dengan cepat sehingga menyulut amarah seluruh warga Semarang, hari berikutnya peperangan pun semakin meluas ke penjuru kota.

Pada tanggal 17 Oktober 1945, tentara Jepang mengumumkan Genjatan Senjata, namun diam-diam mereka melakukan serangan ke berbagai kampung.

Pada tanggal 19 Oktober 1945, pertempuran sengit terus terjadi di seluruh penjuru kota Semarang. Pertempuran ini sendiri berlangsung Hingga 5 hari yang memakan korban 2.000 jiwa warga Semarang dan 850 tentara Jepang.

Untuk memperingati Semangat Perjuangan Para Pemuda dan Pejuang kota Semaang maka dibangunlah sebuah Monumen bernama “Tugu Muda”. Monumen tugu ini dibangun pada tanggal 10 November 1950 dan diresmikan oleh Presiden RI Ir. Sukarno pada tanggal 20 Mei 1953.

Pertempuran 5 Hari di Semarang adalah serangkaian pertempuran rakyat Indonesia dalam mempertahankan status kemerdekaan NKRI. Pertempuran ini terjadi antara warga Semarang melawan tentara Jepang yang meletus pada 15 Oktober 1945 dan berakhir pada 20 Oktober 1945. Karena lamanya pertempuran selama lima hari maka pertempuran ini diberi nama “Pertempuran Lima Hari di Semarang”

 

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!